Ronggeng Dukuh Paruk: Takdir Kehidupan Sang Penari

Judul Buku: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Ketujuh, November 2011
Tebal: 408 Halaman, 21 cm
ISBN: 978-979-22-7728 ( Softcover )
Harga: Rp. 65.000

“bila angin bertiup dari utara, pohon itu akan meliuk ke selatan. Bila angin reda, pohon kelapa itu tidak langsung kembali tegak, melainkan akan berayun lebih dulu ke utara. Bagi Sakarya, huru-hara di luar Dukuh Paruk adalah angin kencang yang meniup kehidupan. Seperti pohon kelapa itu, sebelum kehidupan kembali tenang, lebih dulu harus terjadi sesuatu” ( Ahmad Tohari – Ronggeng Dukuh Paruk )

Ketika manusia berada di dunia, manusia terikat pada satu hal yaitu sebuah takdir. Takdir menjadi harga mati yang diberikan Tuhan kepada manusia dimana manusia tidak mungkin bisa mengubahnya. Banyak manusia yang dilahirkan karena takdir atau menjadi pilihan Tuhan seperti kumpulan nabi dan para raja di dunia. Takdir menjadi sesuatu yang “monumental” karena ada peran Tuhan terletak di para penerima takdir. Hal ini membuat seolah – olah, kata – kata mutiara seperti ” hidup adalah pilihan “” hidup adalah perjuangan “” hard work beat talent when talent doesn’t work hard “ menjadi kumpulan kata – kata sampah karena, tiada gunanya kata – kata tersebut ketika hidup ini sudah jelas takdirnya dan sudah digariskan kemana arahnya oleh Tuhan. intinya, manusia mau berbuat apapun, kalau takdirnya tidak diseperti yang Tuhan gariskan pastilah gagal. Takdir inilah yang membuat manusia menyerahkan diri sepenuhnya semua usaha dan kemampuan kepada Tuhan melalui doa, berharap Tuhan murah hati mengabulkan dan membuat pilihan sesuai keinginannya.

Semua manusia manusia memiliki takdirnya masing – masing, namun, ketika Tuhan memilih seseorang untuk menjadi takdir bagi manusia lainnya, takdir menjadi suatu hal yang luar biasa, karena menjadi seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh Tuhan. Jumlah penerima takdir dari Tuhan hanya sedikit yang dipilih oleh Tuhan oleh karena itu karena merupakan pilihan Tuhan maka para penerima takdir dari Tuhan akan memikul tanggung jawab yang sangat besar, Spiderman berkata ” great power comes great responsibility “. Para penerima takdir dari Tuhan seperti para raja dan nabi akan menjadi sosok tangguh dan luar biasa, seperti; melindungi rakyatnya dari serangan musuh, meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau bagi seorang nabi, memberikan pencerahan bagi umatnya. Tidak sedikit para penerima takdir Tuhan ini menjadi sosok yang rapuh secara mental, karena selain beratnya beban yang mereka bawa tetapi juga memegang tanggung jawab yang luar biasa untuk orang – orang di sekitarnya karena, para penerima takdir Tuhan tetaplah seorang manusia. Para penerima takdir Tuhan inilah yang pada akhirnya menjadi sebuah simbol dan citra bagi masyarakatnya, seperti dalam banyak kisah di dunia, sosok pemimpin seperti Napoleon, Jesus, Nabi Muhammad, Soekarno bahkan juga untuk seorang ilmuan seperti Albert Einstein dan Plato, mereka semualah orang – orang yang takdirnya dipilih oleh Tuhan. Dalam sebuah kisah fiksi buatan Ahmad Tohari, salah satu penerima takdir Tuhan tersebut adalah Srintil, yang takdirnya menjadi seorang penari ronggeng untuk masyarakat Dukuh Paruk.

Sinopsis

Ronggeng Dukuh Paruk yang pertama kali diterbitkan secara utuh pada tahun 2003 menceritakan seorang ronggeng bernama Srintil yang tinggal di Dukuh Paruk, desa yang sangat miskin dan masih memuja arwah nenek moyang bernama Ki Secamenggala. Srintil kehilangan orang tuanya semenjak kecil karena orang tuanya keracunan tempe bongkrek, kemudian diasuh oleh kakek – neneknya yaitu keluarga Sukarya. Kakek Srintil yang bernama Ki Kertaredja inilah yang pertama kali menemukan bakat Srintil yaitu meronggeng, ketika Srintil bermain dengan Rasus dan teman – temannya. Srintil yang masih berusia belasan tahun dianggap saat itu dirasuki oleh arwah Ki Secamenggala ketika meronggeng. Jadilah Srintil dinobatkan sebagai seorang ronggeng di Dukuh Paruk, setelah desa tersebut dua belas tahun hampa tanpa kehadiran ronggeng yang merupakan simbol desa Dukuh Paruk.

Sebelum menjadi ronggeng, Srintil harus melalui berbagai macam adat seperti yang dilakukan para ronggeng di Dukuh Paruk sebelumnya, seperti; selametan di makam leluhur Ki Secamenggala, hingga ia harus melaksanakan ritual bukak kelambu ( penyerahan perawan ). Ritual bukak kelambu membuat konflik batin Rasus, teman kecil dan orang yang dicintai Srintil karena ritual bukak kelambu semacam lelang dimana penawar tertinggi akan menikmati tubuh ronggeng pertama kali. Setelah melewati serangkaian ritual, Srintil akhirnya meronggeng dan menjadi simbol bagi kehidupan Dukuh Paruk.

Kehidupan Srintil sebagai seorang penari ronggeng tidak berjalan mulus karena menemui banyak rintangan seperti kehadiran bakar yang menjadikan rombongan Srintil sebagai hiburan bagi rapat – rapat politiknya hingga membuat Srintil dan Ki Kertaredja harus masuk penjara karena terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia. Selepas dari penjara, kehidupan Srintil tidak juga berubah, ia tetap menjadi simbol dari Dukuh Paruk namun kehidupan pribadinya hancur berantakan setelah itu. Pertemuannya dengan Bajus yang membuatnya ingin berhenti meronggeng hingga pertemuannya kembali dengan orang yang ia cintai yaitu Rasus, tidak juga membuat takdir hidup Srintil bahagia.

Analisa

Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan kumpulan tiga novel yang menjadi satu ini memiliki bahasa yang indah. Seperti terletak pada halaman 11“urat – urat kecil di tangan dan di punggung menegang. Ditolaknya bumi dengan entakan kaki sekuat mungkin. Serabut – serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak – sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi – umbinya yang hanya sebesar jari tercabut “. Namun, kalimat – kalimat indah di atas hanya terdapat bagian pertama Ronggeng Dukuh Paruk yaitu: Catatan buat emak. Sisanya di dua bagian berikutnya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala tidak ada kalimat – kalimat seindah itu.

Ronggeng Dukuh Paruk yang diadaptasi ke film dengan judul Sang Penari telah mendapatkan Piala Citra sebagai film terbaik pada tahun 2011 dan salah satu pemerannya Prisia Nasution dinobatkan sebagai pemeran wanita terbaik. Kemenangan Prisia Nasution karena ia berhasil menjadi karakter Srintil di film Sang Penari. Karakter Srintil di Ronggeng Dukuh Paruk memang luar biasa, Ahmad Tohari dengan cerdasnya menggambarkan tokoh ini melalui setiap tragedi dan kejadian yang menimpanya. Pada buku pertama, karakter Srintil dihidupkan Ahmad Tohari dengan penggambaran seorang gadis kecil ke remaja dan dua buku selanjutnya ketika srintil mulai menjadi ronggeng hingga peristiwa Srintil dipenjara akibat terlibat gerakan makar. Melalui setiap kejadian, Tohari menggambarkan Srintil seperti pada halaman 153, ketika Srintil melawan Ki Kertaredja karena ia menolak meronggeng. Plot novel Ronggeng Dukuh Paruk maju ke depan mengikuti perjalanan hidup Srintil dari kecil hingga dewasa.

Dalam Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari menjadi pihak ketiga dimana ia melakukan narasi sepanjang novel. Selain menggambarkan Srintil, Ahmad Tohari juga menggambarkan tokoh Rasus yang sangat mirip dengan Srintil namun dengan porsi yang amat sangat sedikit. Rasus juga digambarkan melalui situasi yang terjadi di dalam dirinya seperti gambaran kemarahan ia kepada para dokter yang mencincang ( otopsi ) ibunya yang meninggal akibat keracunan tempe bokrek ( hal. 38 ). Tokoh Rasus tidak berkembang banyak di Ronggeng Dukuh Paruk karena ia hanya muncul sesekali. Ia hanya digunakan sebagai cinta sejati simbol Dukuh Paruk yaitu Srintil. Permasalahannya adalah Ahmad Tohari hanya menggambarkan Dukuh Paruk hanya dari dua sisi yaitu Srintil dan Rasus, tidak ada pengembangan karakter lainnya, Ronggeng Dukuh Paruk sangat sepi perspektif karena hanya tentang Srintil dan ( sedikit ) Rasus.

Etnografi ( kajian tentang kehidupan dan budaya dalam suatu masyarakat ) adalah salah satu bagian yang menonjol dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari menggambarkan kehidupan masyarakat Dukuh Paruk yang masih menganut animisme yaitu memuja arwah nenek moyang Ki Secamenggala ( hal. 45 ). Dalam kajian Etnografinya, Ahmad Tohari menuliskan tingginya derajat kaum laki – laki di Dukuh Paruk ketika Srintil harus memakai kutang agar laki – laki tidak kecewa karena melihat dada para wanita yang mengendur ( hal. 83 ). Karakter asli Dukuh paruk juga diperlihatkan sebagai sebuah desa yang naif dan belum tersentuh modernisasi ( hal. 183 ) seperti dalam dialog di bawah ini:

“yang sampean maksud dengan kaum penindas?”

” kaum Imperialis, Kapitalis, Kolonialis, dan para kaki tangannya. Tak salah lagi!”

” Wah kami bingung, mas. Kami tak pernah mengenal mereka ( kaum imperialis dll , terj: penulis review ). cerita sampean kedengeran lucu. Pokoknya begini, mas. Sejak dulu beginilah yang bernama Dukuh Paruk. Kami senang hidup di sini karena itulah kepastian yang kami terima. Dan kekeliruan besar bila sampean berharap akan mendengar keluhan kami. Boleh jadi benar kami bodoh, miskin dan sakit. Tetapi itulah milik kami pribadi. Sampean tak usah pusing memikirkannya. Lucu, kan? Kami sendiri merasa biasa – biasa saja, kenapa orang lain musti repot?”

Ahmad Tohari yang telah memenangkan penghargaan dari Yayasan Buku Utama untuk karya Ronggeng Dukuh Paruk ini pada tahun 1986, menggambarkan etnografi Dukuh Paruk ( hal. 226 – 227 ) yaitu seperti masyarakatnya yang tidak pernah menggunakan kalender, setiap laki – laki yang memiliki istri yang sedang hamil tua diperbolehkan untuk menggunakan Ronggeng ( dalam cerita ini Srintil ) untuk menemaninya tidur, keadaan ekonomi Dukuh Paruk yang mengenaskan karena tidak adanya sistem pertanian yang moderen,membuat setiap gagal panen adalah penderitaan bagi masyarakat Dukuh Paruk karena mayoritas masyarakatnya adalah petani dan peladang. Ketajaman Ahmad Tohari menggambarkan Dukuh Paruk sebenarnya dapat dianalisa bahwa asal – usul dan kelahiran Ahmad Tohari adalah di Banyumas ( lokasi Dukuh Paruk ), oleh karena itu Ahmad Tohari sangat memahami sekali daerah kelahirannya ini.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk telah diterjemahkan dalam berbagai macam bahasa seperti Inggris, Jepang, Jerman, Belanda dll, hal ini sungguh menarik karena negara – negara yang disebutkan di atas merupakan negara yang memiliki pemikiran terbuka ( Liberal ). Pada zaman ketika Ronggeng Dukuh Paruk terbit, salah satu cabang pemikiran sedang berkembang yaitu Feminisme ( gerakan atau pemikiran yang menginginkan kesetaraan kaum laki – laki dan perempuan ). Feminisme dan Etnografi adalah kekuatan utama dari novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Feminisme yang diangkat adalah keadaan wanita dalam hal ini seorang Ronggeng yang harus melayani laki – laki tidak hanya dalam hal menghibur dengan tariannya namun juga harus melayani di tempat tidur. Hal ini dapat terlihat dalamhalaman 214 dimana Srintil melayani seorang anak laki – laki berumur hampir remaja dengan cara tidur bersamanya dan Srintil mendapatkan upah dari melayani laki – laki tersebut. Tentu saja, hal ini masih sangat relevan dengan yang terjadi di daerah – daerah di Indonesia yang masih menggunakan anak untuk dijual kepada laki – laki untuk menemaninya di tempat tidur seperti yang terjadi di puncak, Bogor, Garut dan Tasikmalaya. Perempuan menjadi aset jualan keluarga. Namun dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang dijual adalah perempuan yang sangat tinggi kelasnya yaitu seorang Ronggeng.

Salah satu Etnografi yang mengenaskan adalah bagaimana Srintil menjadi orang yang mengajarkan seks kepada laki – laki yang masih remaja ( hal. 215 ). Hal ini sungguh mengiris perasaan karena membayangkan seorang perempuan yang memiliki martabat tinggi yaitu seorang Ronggeng, harus mengajarkan nilai – nilai dasar tentang seks , hubungan suami istri dan bagaimana mencintai lawan jenis. Dalam bahasa Dukuh Paruk, Srintil menjadi Gowok yaitu perempuan yang mengajari laki laki bagaimana menjadi seorang laki – laki. Nilai – nilai Feminisme di sini sangat kental karena perempuan memegang kendali atas laki laki dan mengajarkan tentang bagaimana menjadi dewasa tapi juga membuat nilai perempuan sangat jatuh karena secara profesional dibayar untuk mengajarkan tentang bagaimana menjadi dewasa ( hubungan suami istri dll ).

Istilah yang membuat Ronggeng Dukuh Paruk menjadi terkenal adalah istilah bukak kelambuBukak kelambu adalah sayembara perawan dimana pihak yang menawar tertinggi akan mendapatkan perawan Ronggeng untuk pertama kalinya ( bisa dilihat di hal. 51 dan 76 ). Tradisi ini wajib dijalani oleh setiap Ronggeng, sebagai sebuah tahapan untuk syarat menjadi seorang Ronggeng. Sekali lagi, wanita dijadikan bahan jualan, yang “menjual” Srintil adalah kakek Srintil sendiri, inilah buruknya moral yang terjadi di Dukuh Paruk dan bagian dimana Feminisme dan nilai – nilai perempuan menjadi sangat rendah. Inilah isu perdagangan manusia yang terjadi di bawah sebuah sistem dalam masyarakat dan hal ini masih lazim di beberapa tempat. Berdasarkan hal itu, Ahmad Tohari melukiskan isu perdagangan manusia ini dengan sangat bagus.

Menjual keperawanan pertama kali, sangat mengingatkan kepada sebuah Novel karangan Arthur Golden yaitu Memoirs of Geisha (1997). Dalam Memoirs of Geisha, seorang Geisha harus memberikan perawannya kepada yang menawar tertinggi sebelum memulai profesinya sebagai seorang Geisha ( mizuage ). Kemiripan Memoirs of Geisha dan Ronggeng Dukuh Paruk sangat terlihat meskipun tidak begitu mirip, seperti kehilangan kedua orang tua, perjuangan untuk menjadi seorang Geisha/Ronggeng, kisah cinta yang tragis hingga gejolak politik dalam negeri.Kehidupan Geisha dan Ronggeng ternyata tidak begitu jauh. Permasalahannya adalah Geisha dan Ronggeng Dukuh Paruk memiliki settingwaktu yang tidak begitu jauh, yaitu masih di abad 20, Masa dimana gejolak pemikiran Feminisme mulai terasa di dunia.

Ahmad Tohari sangat mirip dengan Pramudya Ananta Toer dalam menggambarkan peran wanita yang terjatuh akibat sebuah sistem di masyarakat. Kalau dalam Pramudya Ananta Toer, dapat dilihat dalam novel Bumi Manusia dimana Nyai Ontosoroh dan Annelies yang dipaksa untuk menyerah dan kalah pada sistem kolonialis Belanda, sementara, dalam Ronggeng Dukuh Paruk, narasi kehidupan seorang ronggeng bernama Srintil yang digambarkan “terjatuh” akibat sistem sosial masyarakat. Kehancuran Srintil digambarkan dengan baik pada halaman 315, ketika Srintil pada akhirnya menyesali hidup sebagai seorang perempuan yang hanya dijadikan santapan nafsu laki laki dan memiliki rasa ketergantungan dari diri seorang laki laki. Puncaknya terjadi ketika Srintil akhirnya menemukan seseorang yang ia percaya dan membuatnya “hidup” kembali namun akhirnya dia kembali “terjatuh” karena ia hanya dijadikan alat pelicin dan pertukaran proyek orang yang ia sayang, Srintil dipaksa untuk “tidur” dengan client agar proyek orang yang ia sayang menjadi lancar ( hal. 382 ) meskipun, akhirnya nilai – nilai feminisme ala Pramudya Ananta Toer keluar dengan cara Srintil melawan sistem masyarakat, namun kembali ia kalah dan terpuruk ( hal. 382 ).

Bagian favorit dari buku Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan bagian paling kontroversial adalah pembahasan tentang PKI ( Partai Komunis Indonesia ). Harus diingat bahwa Roggeng Dukuh Paruk tidak dilarang semasa zaman pemerintahan Orde Baru namun hanya mendapat sensor di beberapa bagian, salah satu yang terkena sensor adalah bagian ketika Srintil berurusan dengan orang – orang komunis yang dipimpin oleh Bakar. PKI dikenal dengan pendekatannya yang sangat merakyat, salah satunya PKI bekerjasama dengan Lekra ( Lembaga Kesenian Rakyat ) untuk melakukan propaganda pemikiran kepada masyarakat di Indonesia. Dengan kesenian yang digemari rakyat, PKI masuk ke dalam celah – celah masyarakat. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk, PKI masuk ke dalam kesenian Ronggeng. Orkes Ronggeng Srintil dimasuki bakar untuk menarik massa dan menyebarkan ide – ide komunisme. Selama orkes berlangsung, pemikiran – pemikiran komunisme Bakar mendapatkan tempat di masyarakat, semuanya karena pengaruh Ronggeng bernama Srintil, pemikiran komunisme menjalar di masyarakat yang senang dengan hiburan. Mungkin inilah yang kemudian dipakai oleh para Caleg (calon legislastif ) dan Capres ( calon presiden ) indonesia saat ini yaitu dengan menggunakan musik dangdut sambil menyebarkan pemikirannya di masyarakat karena masyarakat Indonesia menyukai hiburan rakyat seperti ini. Serta tidak dapat dilupakan bahwa penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan kesenian rakyat. Hal inilah yang merupakan kecerdasan PKI dalam mengambil hati masyarakat, memanfaatkan celah hiburan dalam menyebarkan pemikiran.

Bagian PKI dan kejatuhan Srintil ketika berinteraksi dengan politik dapat dilihat pada bagian buku Lintang Kemukus Dini Hari ( bagian 2 ). Pembersihan yang dilakukan oleh Orde Baru setelah kegagalan kudeta yang dilakukan PKI juga menyeret orang – orang yang beafiliasi dengan PKI seperti Srintil dan kakek Srintil, Sekarya. Di sinilah topik sensitif yang membuat pemerintah Orde Baru “kebakaran jenggot” karena orang – orang yang tidak bersalah juga ikut dipenjarakan bahkan juga dieksekusi mati, orang – orang yang padahal hanya penggembira dalam setiap kampanye PKI dan tidak ada hubungan apapun dengan PKI. Pemerintah Orde Baru yang ketakutan dengan beredarnya buku ini maka dilakukanlah sensor – sensor di dalam setiap bagian. Karena dapat dibayangkan apabila masyarakat membaca bagian PKI ini, akan timbul gejolak perlawanan kepada pemerintah Orde Baru. Ahmad Tohari memberikan pembelaan yang tepat kepada korban – korban pembersihan PKI dengan menuliskan bagian Lentera Kemukus Dini Hari yang menyorot korban pembersihan pemerintahan Orde Baru yang tidak bersalah. Secara garis besar, studi Victimologi ( cabang ilmu sejarah yang melihat sejarah dari para korban kejadian ) lah yang dilakukan oleh Ahmad Tohari dalam melihat kejadian tahun 1965 – 1970 dimana pembersihan dilakukan di seluruh Indonesia dan dalam buku Ronggeng Dukuh Paruk, karakter utama dari Victimologi tersebut adalah Srintil. Secara garis besar, studi Victimologi adalah untuk melakukan pembelaan kepada korban karena sejarah hanya selalu mengingat para pemenang bukan para korban dan studi Victimologi menjadi trend kembali di dalam sastra dan tulisan di Indonesia ketika MajalahTempo mengangkat isu PKI pada bulan september 2012, edisi tersebut laris dimana – dimana dan menjadi langka, serta buku Pulang karya Leila S. Chudori yang menyorot korban pembersihan PKI yang “terbuang” di Perancis, buku ini juga mendapatkan sambutan yang positif di masyarakat. Serta kenyataan bahwa film Sang Penari juga mendapatkan penghargaan festival film Indonesia sebagai film terbaik. Hal – hal ini membuktikan bahwa masyarakat di Indonesia masih “lapar” akan sejarah – sejarah PKI dan Orde Baru saat itu.

Kesimpulannya, Buku Ronggeng Dukuh Paruk sangat luar biasa, sangat baik bahkan harus dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat karena sejarah tentang masa pembersihan PKI nyaris tiada yang tersisa karena pengaruh propaganda pemerintah Orde Baru. Banyak hal yang bisa digali di novel Ronggeng Dukuh Paruk seperti tentang etnografi masyarakat jawa di Indonesia, Victimologi para korban pembersihan pemerintahan Orde Baru hingga tentang feminisme yang secara bagus digambarkan oleh Ahmad Tohari. Cover buku ini sangat salah karena Ronggeng Dukuh Paruk bukanlah tentang percintaan dan romansa ( karena covernya adalah Srintil dan Rasus ) tapi perjuangan seseorang yang dipilih Tuhan untuk membawa nama suatu tempat yaitu Srintil. Semoga Ahmad Tohari dapat segera membuat lanjutan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini seperti yang dikatakannya pada tahun 2011

Nilai: 4 dari 5 secara keseluruhan.

About these ads
This entry was posted in Sastra Indonesia and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s