Ronggeng Dukuh Paruk: Takdir Kehidupan Sang Penari

Judul Buku: Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Ketujuh, November 2011
Tebal: 408 Halaman, 21 cm
ISBN: 978-979-22-7728 ( Softcover )
Harga: Rp. 65.000

“bila angin bertiup dari utara, pohon itu akan meliuk ke selatan. Bila angin reda, pohon kelapa itu tidak langsung kembali tegak, melainkan akan berayun lebih dulu ke utara. Bagi Sakarya, huru-hara di luar Dukuh Paruk adalah angin kencang yang meniup kehidupan. Seperti pohon kelapa itu, sebelum kehidupan kembali tenang, lebih dulu harus terjadi sesuatu” ( Ahmad Tohari – Ronggeng Dukuh Paruk )

Ketika manusia berada di dunia, manusia terikat pada satu hal yaitu sebuah takdir. Takdir menjadi harga mati yang diberikan Tuhan kepada manusia dimana manusia tidak mungkin bisa mengubahnya. Banyak manusia yang dilahirkan karena takdir atau menjadi pilihan Tuhan seperti kumpulan nabi dan para raja di dunia. Takdir menjadi sesuatu yang “monumental” karena ada peran Tuhan terletak di para penerima takdir. Hal ini membuat seolah – olah, kata – kata mutiara seperti ” hidup adalah pilihan “” hidup adalah perjuangan “” hard work beat talent when talent doesn’t work hard “ menjadi kumpulan kata – kata sampah karena, tiada gunanya kata – kata tersebut ketika hidup ini sudah jelas takdirnya dan sudah digariskan kemana arahnya oleh Tuhan. intinya, manusia mau berbuat apapun, kalau takdirnya tidak diseperti yang Tuhan gariskan pastilah gagal. Takdir inilah yang membuat manusia menyerahkan diri sepenuhnya semua usaha dan kemampuan kepada Tuhan melalui doa, berharap Tuhan murah hati mengabulkan dan membuat pilihan sesuai keinginannya.

Semua manusia manusia memiliki takdirnya masing – masing, namun, ketika Tuhan memilih seseorang untuk menjadi takdir bagi manusia lainnya, takdir menjadi suatu hal yang luar biasa, karena menjadi seorang pemimpin yang dipilih langsung oleh Tuhan. Jumlah penerima takdir dari Tuhan hanya sedikit yang dipilih oleh Tuhan oleh karena itu karena merupakan pilihan Tuhan maka para penerima takdir dari Tuhan akan memikul tanggung jawab yang sangat besar, Spiderman berkata ” great power comes great responsibility “. Para penerima takdir dari Tuhan seperti para raja dan nabi akan menjadi sosok tangguh dan luar biasa, seperti; melindungi rakyatnya dari serangan musuh, meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau bagi seorang nabi, memberikan pencerahan bagi umatnya. Tidak sedikit para penerima takdir Tuhan ini menjadi sosok yang rapuh secara mental, karena selain beratnya beban yang mereka bawa tetapi juga memegang tanggung jawab yang luar biasa untuk orang – orang di sekitarnya karena, para penerima takdir Tuhan tetaplah seorang manusia. Para penerima takdir Tuhan inilah yang pada akhirnya menjadi sebuah simbol dan citra bagi masyarakatnya, seperti dalam banyak kisah di dunia, sosok pemimpin seperti Napoleon, Jesus, Nabi Muhammad, Soekarno bahkan juga untuk seorang ilmuan seperti Albert Einstein dan Plato, mereka semualah orang – orang yang takdirnya dipilih oleh Tuhan. Dalam sebuah kisah fiksi buatan Ahmad Tohari, salah satu penerima takdir Tuhan tersebut adalah Srintil, yang takdirnya menjadi seorang penari ronggeng untuk masyarakat Dukuh Paruk.

Sinopsis

Ronggeng Dukuh Paruk yang pertama kali diterbitkan secara utuh pada tahun 2003 menceritakan seorang ronggeng bernama Srintil yang tinggal di Dukuh Paruk, desa yang sangat miskin dan masih memuja arwah nenek moyang bernama Ki Secamenggala. Srintil kehilangan orang tuanya semenjak kecil karena orang tuanya keracunan tempe bongkrek, kemudian diasuh oleh kakek – neneknya yaitu keluarga Sukarya. Kakek Srintil yang bernama Ki Kertaredja inilah yang pertama kali menemukan bakat Srintil yaitu meronggeng, ketika Srintil bermain dengan Rasus dan teman – temannya. Srintil yang masih berusia belasan tahun dianggap saat itu dirasuki oleh arwah Ki Secamenggala ketika meronggeng. Jadilah Srintil dinobatkan sebagai seorang ronggeng di Dukuh Paruk, setelah desa tersebut dua belas tahun hampa tanpa kehadiran ronggeng yang merupakan simbol desa Dukuh Paruk.

Sebelum menjadi ronggeng, Srintil harus melalui berbagai macam adat seperti yang dilakukan para ronggeng di Dukuh Paruk sebelumnya, seperti; selametan di makam leluhur Ki Secamenggala, hingga ia harus melaksanakan ritual bukak kelambu ( penyerahan perawan ). Ritual bukak kelambu membuat konflik batin Rasus, teman kecil dan orang yang dicintai Srintil karena ritual bukak kelambu semacam lelang dimana penawar tertinggi akan menikmati tubuh ronggeng pertama kali. Setelah melewati serangkaian ritual, Srintil akhirnya meronggeng dan menjadi simbol bagi kehidupan Dukuh Paruk.

Kehidupan Srintil sebagai seorang penari ronggeng tidak berjalan mulus karena menemui banyak rintangan seperti kehadiran bakar yang menjadikan rombongan Srintil sebagai hiburan bagi rapat – rapat politiknya hingga membuat Srintil dan Ki Kertaredja harus masuk penjara karena terlibat gerakan Partai Komunis Indonesia. Selepas dari penjara, kehidupan Srintil tidak juga berubah, ia tetap menjadi simbol dari Dukuh Paruk namun kehidupan pribadinya hancur berantakan setelah itu. Pertemuannya dengan Bajus yang membuatnya ingin berhenti meronggeng hingga pertemuannya kembali dengan orang yang ia cintai yaitu Rasus, tidak juga membuat takdir hidup Srintil bahagia.

Analisa

Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan kumpulan tiga novel yang menjadi satu ini memiliki bahasa yang indah. Seperti terletak pada halaman 11“urat – urat kecil di tangan dan di punggung menegang. Ditolaknya bumi dengan entakan kaki sekuat mungkin. Serabut – serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak – sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi – umbinya yang hanya sebesar jari tercabut “. Namun, kalimat – kalimat indah di atas hanya terdapat bagian pertama Ronggeng Dukuh Paruk yaitu: Catatan buat emak. Sisanya di dua bagian berikutnya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala tidak ada kalimat – kalimat seindah itu.

Ronggeng Dukuh Paruk yang diadaptasi ke film dengan judul Sang Penari telah mendapatkan Piala Citra sebagai film terbaik pada tahun 2011 dan salah satu pemerannya Prisia Nasution dinobatkan sebagai pemeran wanita terbaik. Kemenangan Prisia Nasution karena ia berhasil menjadi karakter Srintil di film Sang Penari. Karakter Srintil di Ronggeng Dukuh Paruk memang luar biasa, Ahmad Tohari dengan cerdasnya menggambarkan tokoh ini melalui setiap tragedi dan kejadian yang menimpanya. Pada buku pertama, karakter Srintil dihidupkan Ahmad Tohari dengan penggambaran seorang gadis kecil ke remaja dan dua buku selanjutnya ketika srintil mulai menjadi ronggeng hingga peristiwa Srintil dipenjara akibat terlibat gerakan makar. Melalui setiap kejadian, Tohari menggambarkan Srintil seperti pada halaman 153, ketika Srintil melawan Ki Kertaredja karena ia menolak meronggeng. Plot novel Ronggeng Dukuh Paruk maju ke depan mengikuti perjalanan hidup Srintil dari kecil hingga dewasa.

Dalam Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari menjadi pihak ketiga dimana ia melakukan narasi sepanjang novel. Selain menggambarkan Srintil, Ahmad Tohari juga menggambarkan tokoh Rasus yang sangat mirip dengan Srintil namun dengan porsi yang amat sangat sedikit. Rasus juga digambarkan melalui situasi yang terjadi di dalam dirinya seperti gambaran kemarahan ia kepada para dokter yang mencincang ( otopsi ) ibunya yang meninggal akibat keracunan tempe bokrek ( hal. 38 ). Tokoh Rasus tidak berkembang banyak di Ronggeng Dukuh Paruk karena ia hanya muncul sesekali. Ia hanya digunakan sebagai cinta sejati simbol Dukuh Paruk yaitu Srintil. Permasalahannya adalah Ahmad Tohari hanya menggambarkan Dukuh Paruk hanya dari dua sisi yaitu Srintil dan Rasus, tidak ada pengembangan karakter lainnya, Ronggeng Dukuh Paruk sangat sepi perspektif karena hanya tentang Srintil dan ( sedikit ) Rasus.

Etnografi ( kajian tentang kehidupan dan budaya dalam suatu masyarakat ) adalah salah satu bagian yang menonjol dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari menggambarkan kehidupan masyarakat Dukuh Paruk yang masih menganut animisme yaitu memuja arwah nenek moyang Ki Secamenggala ( hal. 45 ). Dalam kajian Etnografinya, Ahmad Tohari menuliskan tingginya derajat kaum laki – laki di Dukuh Paruk ketika Srintil harus memakai kutang agar laki – laki tidak kecewa karena melihat dada para wanita yang mengendur ( hal. 83 ). Karakter asli Dukuh paruk juga diperlihatkan sebagai sebuah desa yang naif dan belum tersentuh modernisasi ( hal. 183 ) seperti dalam dialog di bawah ini:

“yang sampean maksud dengan kaum penindas?”

” kaum Imperialis, Kapitalis, Kolonialis, dan para kaki tangannya. Tak salah lagi!”

” Wah kami bingung, mas. Kami tak pernah mengenal mereka ( kaum imperialis dll , terj: penulis review ). cerita sampean kedengeran lucu. Pokoknya begini, mas. Sejak dulu beginilah yang bernama Dukuh Paruk. Kami senang hidup di sini karena itulah kepastian yang kami terima. Dan kekeliruan besar bila sampean berharap akan mendengar keluhan kami. Boleh jadi benar kami bodoh, miskin dan sakit. Tetapi itulah milik kami pribadi. Sampean tak usah pusing memikirkannya. Lucu, kan? Kami sendiri merasa biasa – biasa saja, kenapa orang lain musti repot?”

Ahmad Tohari yang telah memenangkan penghargaan dari Yayasan Buku Utama untuk karya Ronggeng Dukuh Paruk ini pada tahun 1986, menggambarkan etnografi Dukuh Paruk ( hal. 226 – 227 ) yaitu seperti masyarakatnya yang tidak pernah menggunakan kalender, setiap laki – laki yang memiliki istri yang sedang hamil tua diperbolehkan untuk menggunakan Ronggeng ( dalam cerita ini Srintil ) untuk menemaninya tidur, keadaan ekonomi Dukuh Paruk yang mengenaskan karena tidak adanya sistem pertanian yang moderen,membuat setiap gagal panen adalah penderitaan bagi masyarakat Dukuh Paruk karena mayoritas masyarakatnya adalah petani dan peladang. Ketajaman Ahmad Tohari menggambarkan Dukuh Paruk sebenarnya dapat dianalisa bahwa asal – usul dan kelahiran Ahmad Tohari adalah di Banyumas ( lokasi Dukuh Paruk ), oleh karena itu Ahmad Tohari sangat memahami sekali daerah kelahirannya ini.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk telah diterjemahkan dalam berbagai macam bahasa seperti Inggris, Jepang, Jerman, Belanda dll, hal ini sungguh menarik karena negara – negara yang disebutkan di atas merupakan negara yang memiliki pemikiran terbuka ( Liberal ). Pada zaman ketika Ronggeng Dukuh Paruk terbit, salah satu cabang pemikiran sedang berkembang yaitu Feminisme ( gerakan atau pemikiran yang menginginkan kesetaraan kaum laki – laki dan perempuan ). Feminisme dan Etnografi adalah kekuatan utama dari novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Feminisme yang diangkat adalah keadaan wanita dalam hal ini seorang Ronggeng yang harus melayani laki – laki tidak hanya dalam hal menghibur dengan tariannya namun juga harus melayani di tempat tidur. Hal ini dapat terlihat dalamhalaman 214 dimana Srintil melayani seorang anak laki – laki berumur hampir remaja dengan cara tidur bersamanya dan Srintil mendapatkan upah dari melayani laki – laki tersebut. Tentu saja, hal ini masih sangat relevan dengan yang terjadi di daerah – daerah di Indonesia yang masih menggunakan anak untuk dijual kepada laki – laki untuk menemaninya di tempat tidur seperti yang terjadi di puncak, Bogor, Garut dan Tasikmalaya. Perempuan menjadi aset jualan keluarga. Namun dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang dijual adalah perempuan yang sangat tinggi kelasnya yaitu seorang Ronggeng.

Salah satu Etnografi yang mengenaskan adalah bagaimana Srintil menjadi orang yang mengajarkan seks kepada laki – laki yang masih remaja ( hal. 215 ). Hal ini sungguh mengiris perasaan karena membayangkan seorang perempuan yang memiliki martabat tinggi yaitu seorang Ronggeng, harus mengajarkan nilai – nilai dasar tentang seks , hubungan suami istri dan bagaimana mencintai lawan jenis. Dalam bahasa Dukuh Paruk, Srintil menjadi Gowok yaitu perempuan yang mengajari laki laki bagaimana menjadi seorang laki – laki. Nilai – nilai Feminisme di sini sangat kental karena perempuan memegang kendali atas laki laki dan mengajarkan tentang bagaimana menjadi dewasa tapi juga membuat nilai perempuan sangat jatuh karena secara profesional dibayar untuk mengajarkan tentang bagaimana menjadi dewasa ( hubungan suami istri dll ).

Istilah yang membuat Ronggeng Dukuh Paruk menjadi terkenal adalah istilah bukak kelambuBukak kelambu adalah sayembara perawan dimana pihak yang menawar tertinggi akan mendapatkan perawan Ronggeng untuk pertama kalinya ( bisa dilihat di hal. 51 dan 76 ). Tradisi ini wajib dijalani oleh setiap Ronggeng, sebagai sebuah tahapan untuk syarat menjadi seorang Ronggeng. Sekali lagi, wanita dijadikan bahan jualan, yang “menjual” Srintil adalah kakek Srintil sendiri, inilah buruknya moral yang terjadi di Dukuh Paruk dan bagian dimana Feminisme dan nilai – nilai perempuan menjadi sangat rendah. Inilah isu perdagangan manusia yang terjadi di bawah sebuah sistem dalam masyarakat dan hal ini masih lazim di beberapa tempat. Berdasarkan hal itu, Ahmad Tohari melukiskan isu perdagangan manusia ini dengan sangat bagus.

Menjual keperawanan pertama kali, sangat mengingatkan kepada sebuah Novel karangan Arthur Golden yaitu Memoirs of Geisha (1997). Dalam Memoirs of Geisha, seorang Geisha harus memberikan perawannya kepada yang menawar tertinggi sebelum memulai profesinya sebagai seorang Geisha ( mizuage ). Kemiripan Memoirs of Geisha dan Ronggeng Dukuh Paruk sangat terlihat meskipun tidak begitu mirip, seperti kehilangan kedua orang tua, perjuangan untuk menjadi seorang Geisha/Ronggeng, kisah cinta yang tragis hingga gejolak politik dalam negeri.Kehidupan Geisha dan Ronggeng ternyata tidak begitu jauh. Permasalahannya adalah Geisha dan Ronggeng Dukuh Paruk memiliki settingwaktu yang tidak begitu jauh, yaitu masih di abad 20, Masa dimana gejolak pemikiran Feminisme mulai terasa di dunia.

Ahmad Tohari sangat mirip dengan Pramudya Ananta Toer dalam menggambarkan peran wanita yang terjatuh akibat sebuah sistem di masyarakat. Kalau dalam Pramudya Ananta Toer, dapat dilihat dalam novel Bumi Manusia dimana Nyai Ontosoroh dan Annelies yang dipaksa untuk menyerah dan kalah pada sistem kolonialis Belanda, sementara, dalam Ronggeng Dukuh Paruk, narasi kehidupan seorang ronggeng bernama Srintil yang digambarkan “terjatuh” akibat sistem sosial masyarakat. Kehancuran Srintil digambarkan dengan baik pada halaman 315, ketika Srintil pada akhirnya menyesali hidup sebagai seorang perempuan yang hanya dijadikan santapan nafsu laki laki dan memiliki rasa ketergantungan dari diri seorang laki laki. Puncaknya terjadi ketika Srintil akhirnya menemukan seseorang yang ia percaya dan membuatnya “hidup” kembali namun akhirnya dia kembali “terjatuh” karena ia hanya dijadikan alat pelicin dan pertukaran proyek orang yang ia sayang, Srintil dipaksa untuk “tidur” dengan client agar proyek orang yang ia sayang menjadi lancar ( hal. 382 ) meskipun, akhirnya nilai – nilai feminisme ala Pramudya Ananta Toer keluar dengan cara Srintil melawan sistem masyarakat, namun kembali ia kalah dan terpuruk ( hal. 382 ).

Bagian favorit dari buku Ronggeng Dukuh Paruk yang merupakan bagian paling kontroversial adalah pembahasan tentang PKI ( Partai Komunis Indonesia ). Harus diingat bahwa Roggeng Dukuh Paruk tidak dilarang semasa zaman pemerintahan Orde Baru namun hanya mendapat sensor di beberapa bagian, salah satu yang terkena sensor adalah bagian ketika Srintil berurusan dengan orang – orang komunis yang dipimpin oleh Bakar. PKI dikenal dengan pendekatannya yang sangat merakyat, salah satunya PKI bekerjasama dengan Lekra ( Lembaga Kesenian Rakyat ) untuk melakukan propaganda pemikiran kepada masyarakat di Indonesia. Dengan kesenian yang digemari rakyat, PKI masuk ke dalam celah – celah masyarakat. Dalam Ronggeng Dukuh Paruk, PKI masuk ke dalam kesenian Ronggeng. Orkes Ronggeng Srintil dimasuki bakar untuk menarik massa dan menyebarkan ide – ide komunisme. Selama orkes berlangsung, pemikiran – pemikiran komunisme Bakar mendapatkan tempat di masyarakat, semuanya karena pengaruh Ronggeng bernama Srintil, pemikiran komunisme menjalar di masyarakat yang senang dengan hiburan. Mungkin inilah yang kemudian dipakai oleh para Caleg (calon legislastif ) dan Capres ( calon presiden ) indonesia saat ini yaitu dengan menggunakan musik dangdut sambil menyebarkan pemikirannya di masyarakat karena masyarakat Indonesia menyukai hiburan rakyat seperti ini. Serta tidak dapat dilupakan bahwa penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan kesenian rakyat. Hal inilah yang merupakan kecerdasan PKI dalam mengambil hati masyarakat, memanfaatkan celah hiburan dalam menyebarkan pemikiran.

Bagian PKI dan kejatuhan Srintil ketika berinteraksi dengan politik dapat dilihat pada bagian buku Lintang Kemukus Dini Hari ( bagian 2 ). Pembersihan yang dilakukan oleh Orde Baru setelah kegagalan kudeta yang dilakukan PKI juga menyeret orang – orang yang beafiliasi dengan PKI seperti Srintil dan kakek Srintil, Sekarya. Di sinilah topik sensitif yang membuat pemerintah Orde Baru “kebakaran jenggot” karena orang – orang yang tidak bersalah juga ikut dipenjarakan bahkan juga dieksekusi mati, orang – orang yang padahal hanya penggembira dalam setiap kampanye PKI dan tidak ada hubungan apapun dengan PKI. Pemerintah Orde Baru yang ketakutan dengan beredarnya buku ini maka dilakukanlah sensor – sensor di dalam setiap bagian. Karena dapat dibayangkan apabila masyarakat membaca bagian PKI ini, akan timbul gejolak perlawanan kepada pemerintah Orde Baru. Ahmad Tohari memberikan pembelaan yang tepat kepada korban – korban pembersihan PKI dengan menuliskan bagian Lentera Kemukus Dini Hari yang menyorot korban pembersihan pemerintahan Orde Baru yang tidak bersalah. Secara garis besar, studi Victimologi ( cabang ilmu sejarah yang melihat sejarah dari para korban kejadian ) lah yang dilakukan oleh Ahmad Tohari dalam melihat kejadian tahun 1965 – 1970 dimana pembersihan dilakukan di seluruh Indonesia dan dalam buku Ronggeng Dukuh Paruk, karakter utama dari Victimologi tersebut adalah Srintil. Secara garis besar, studi Victimologi adalah untuk melakukan pembelaan kepada korban karena sejarah hanya selalu mengingat para pemenang bukan para korban dan studi Victimologi menjadi trend kembali di dalam sastra dan tulisan di Indonesia ketika MajalahTempo mengangkat isu PKI pada bulan september 2012, edisi tersebut laris dimana – dimana dan menjadi langka, serta buku Pulang karya Leila S. Chudori yang menyorot korban pembersihan PKI yang “terbuang” di Perancis, buku ini juga mendapatkan sambutan yang positif di masyarakat. Serta kenyataan bahwa film Sang Penari juga mendapatkan penghargaan festival film Indonesia sebagai film terbaik. Hal – hal ini membuktikan bahwa masyarakat di Indonesia masih “lapar” akan sejarah – sejarah PKI dan Orde Baru saat itu.

Kesimpulannya, Buku Ronggeng Dukuh Paruk sangat luar biasa, sangat baik bahkan harus dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat karena sejarah tentang masa pembersihan PKI nyaris tiada yang tersisa karena pengaruh propaganda pemerintah Orde Baru. Banyak hal yang bisa digali di novel Ronggeng Dukuh Paruk seperti tentang etnografi masyarakat jawa di Indonesia, Victimologi para korban pembersihan pemerintahan Orde Baru hingga tentang feminisme yang secara bagus digambarkan oleh Ahmad Tohari. Cover buku ini sangat salah karena Ronggeng Dukuh Paruk bukanlah tentang percintaan dan romansa ( karena covernya adalah Srintil dan Rasus ) tapi perjuangan seseorang yang dipilih Tuhan untuk membawa nama suatu tempat yaitu Srintil. Semoga Ahmad Tohari dapat segera membuat lanjutan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini seperti yang dikatakannya pada tahun 2011

Nilai: 4 dari 5 secara keseluruhan.

Posted in Sastra Indonesia | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Life of Pi: Buku Panduan Selamat di Samudra Pasifik Dengan Sedikit Tuhan

“Life of Pi: Buku Panduan Selamat di Samudra Pasifik Dengan Sedikit Tuhan”

Judul Buku: Life of Pi
Penulis: Yann Martel
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Keenam, Desember 2012
Tebal: 448 Halaman, 20 cm
ISBN: 978-979-22-8900-8 ( Softcover )
Harga: Rp. 55.000

Kisah ini akan membuat orang percaya akan Tuhan – Life of Pi”

Manusia selalu terpukau dengan keajaiban. Keajaiban membuat manusia percaya bahwa ada suatu kemustahilan pada setiap kejadian. Mungkin karena itulah acara sulap begitu digemari diseluruh dunia, membayangkan kelinci keluar dari topi adalah kemustahilan. Begitulah juga dengan Agama, Manusia dipaksa mempercayai dengan dongeng-dongengmembelah lautan ( Musa / Moses ), tidak musnah dibakar ( Ibrahim ), Inkarnasi Tuhan menjadi makhluk hidup ( Dewa Wisnu ). Keajaiban – keajaiban tersebut membuat manusia dipaksa untuk mempercayai bahwa ada kekuatan melebihi kemampuan manusia yaitu apa yang disebut sebagai Tuhan.

Cukupkah dengan terpukau dengan keajaiban yang Tuhan ciptakan melalui nabi – nabinya tersebut, membuat manusia percaya kepada Tuhan? TIDAK! Tuhan memberikan rasa takut pada manusia. Rasa takut inilah yang kemudiandieksploitasi besar – besar daripada keajaiban – keajaibanNYA. Rasa takut gagal, rasa takut disiksa di neraka, rasa takut miskin. Rasa takut tersebutlah yang kemudian menjadi titik terendah hingga manusia kemudian harus berdoa. Melalui rasa takut, manusia percaya pada Tuhan. Rasa takut inilah yang digambarkan Yann Martel dalam bukunya Life of Pi yang memenangkan penghargaan Man Booker Prize pada tahun 2002.

Sinopsis 

Life of Pi adalah tentang seseorang bernama Piscine Molitor Patel yang sering disingkat menjadi Pi, yang tinggal di Pondicherry, India. Pi adalah keliling lingkaran dalam bilangan matematika (22/7, 3.14) begitu ia menyebut namanya. Pi dibesarkan oleh keluarga India yang sangat modern, yang jauh berbeda dengan India terdahulu yang penuh hal – hal konservatif. Kedua orang tua Pi memiliki harta yang cukup besar yaitu sebuah kebun binatang di Pondicherry, India. Pi memiliki seorang kakak yang berbeda jauh dengannya karena memiliki kegemaran yang berbeda namun selalu membelanya bernama Ravi. Di masa remaja, Pi mendalami ilmu spiritualitas, Pi mendalami tiga agama sekaligus yaitu Islam, Hindu dan Kristen. Pi merasa ketiga agama tersebut membuatnya bertemu dengan Tuhan. Hingga pada akhirnya datanglah pertentangan antara ilmu spiritualitas Pi dengan kedua orang tuanya. karena Pi harus memilih salah satu diantara 3 agama tersebut. Dan diakhiri dengan mengalahnya kedua orang tua Pi kepada sikap Pi.

Pada tahun 1970an, muncul gejolak antara India – Pakistan yang membuat keluarga Pi menjual seluruh lahan kebun binatangnya kepada pemerintah. Keluarga Pi sepakat untuk pindah ke Kanada dan memulai kehidupan baru disana dengan cara menjual seluruh hewan – hewannya kepada kebun binatang Kanada. Pi dan keluarga berangkat pada 21 Juni 1977 menggunakan kapal Tsimtsum yang berasal dari Jepang menuju Kanada. Malangnya, Kapal Tsimtsum hancur terhantam kekejaman Samudra Pasifik. Pi adalah satu – satunya korban selamat dari bencana tersebut, keluarga Pi, awak kapal dan seluruh muatan dalam Kapal Tsimtsum habis terbenam. Berbekal sekoci dan berbagai survival kit, Pi berusaha untuk bertahan hidup. Namun, Pi tidak sendiri karena ada seekor Harimau Bengal India berumur 3 tahun bernama Richard Parker berada bersamanya di sekoci penyelamat tersebut. Pi hanya memiliki dua ketakutan; ketakutan mati akibat kejamnya Samudra Pasifik atau mati dimakan hidup – hidup oleh Richard Parker. Disaat semua rasa takut menyelimuti Pi, Tuhan akhirnya hadir dalam hidup seorang Pi.

Analisis.

Membaca Life of Pi setelah menonton filmnya ternyata mengurangi kenikmatan membacanya. Pertama, Hal ini disebabkan popularitas buku ini menanjak sejak di filmkan oleh sutradara peraih 2 Oscar yaitu Ang Lee yang membuat penulis sangat berhasrat untuk membaca Life of Pi, kedua, Life of Pi memiliki perbedaan signifikan dengan filmnya yaitu tentang fokus dalam masing – masing media ( Buku dan Film ). Fokus dari Life of Pi buatan Martel adalah tentang Filosofi ketuhanan dan bertahan hidup di lautan dan fokus dari Ang Lee adalah menitikberatkan pada visual effectsehingga Life of Pi sangat indah dan memanjakan mata. Hal ini membuat Ang Lee diganjar Best Visual Effect dan Best Director serta Best Cinematography pada Oscar Award 2013. Penulis menyukai special effect pada Richard Parker karena dapat dibayangkan sulitnya menaruh harimau betulan tanpa membuatnya animasi yang bagus di atas kapal. Hingga Ang Lee harus memakai Visual Effect untuk peran Richard Parker. Karena itu Ang Lee sukses menggambarkan apa yang digambarkan Martel dalam bukunya secara benar.

Life of Pi yang mendapat tuduhan plagiat pada tahun 2002 dari penulis Brazil berjudul Maxs and Cat karena dianggap memiliki kemiripan ini karena sama – sama berkisah tentang seseorang yang terdampar di lautan ini menitik beratkan pada dunia kebun binatang pada bagian – bagian awalnya. Martel sepertinya menyukai perumpamaan binatang dalam filosofi hidup di buku Life of Pi seperti pada halaman 41, dimana Martel menyebutkan kebun binatang sebagai rumah yang nyaman dan alam liar sebagai tempat terasing. argumentasi Martel ini berasal dari kebun binatang yang selalu merawat, menjaga hewan dan memberikan hewan – hewan makanan yang bagus, benar – benar memanjakan binatang – binatang tersebut. Berbeda dengan alam liar yang memaksa hewan untuk bertahan hidup sendiri, melawan predator dan mengambil sendiri makanan yang ada. filosofi “Home sweet home ( Tiada rumah yang indah selain rumah sendiri )”inilah yang tonjolkan Martel dalam Life of Pi.

Kebun binatang yang digambarkan dari filosofi “Home Sweet Home” ini bukanlah tanpa bahaya dan Home tidak selalu menjadi tempat berlindung, Home selalu dirongrong oleh bahaya dari luar. Martel menceritakan pada halaman 57melalui sejarah kebun binatang yaitu Kebun binatang Pi pernah dijadikan tempat berburu rusa oleh orang Hindu karena seperti halnya masyarakat Hindu dimana rusa adalah jelmaan Rahwana yang jahat. bahaya – bahaya lainnya adalah manusia yang suka melempar batu kepada binatang dan memberikan makanan kepada hewan hingga hewan tersebut sakit. Disinilah nilai plus Martel yang cerdas mengelaborasi filosofi dunia dengan kebun binatang. Berbeda dengan filmnya yang membuat kebun binatang hanya “asal lewat”, tidak begitu banyak diceritakan padahal hal ini sangat menarik.

Life of Pi yang dipecah menjadi 3 bagian ini, mengawali bagian awalnya dengan kehidupan Pi di India, menurut penulis inilah bagian terbaik dari buku ini. Membaca bagian pertama Pi, selain tentang dunia kebun binatang di atas adalah tentang sifat manusia yang diibaratkan dengan binatang. Pada halaman 66-67, ayah Pi menjelaskan bahwa binatang sekecil apapun mampu menyakiti, seperti burung – burung kecil yang mampu memotong tangan seperti pisau bertemu mentega, dan hewan yang paling berbahaya di kebun binatang adalah gajah yang sering menginjak pengunjung karena nalurinya. Sifat manusia yang ingin digambarkan pada bagian ini adalah binatang – binatang yang lucu bahkan sanggup menjadi predator yang mematikan, juga itulah manusia yang selalu menganggap dunia ini baik, hingga pada saatnya dunia kemudian menjadi kejam hingga manusia membencinya dan melupakan bahwa dunia pada awalnya bersifat baik.

Salah satu bagian favorit penulis adalah tentang Pi yang menjelaskan tentang singa. Hal ini tidak begitu dibahas dalam filmnya namun justru inilah kunci bagaimana menenangkan Richard Parker di lautan nanti. Ang Lee melupakan kunci penting ini di filmnya. Tentang Singa berada pada halaman 76 – 77, dimana kunci menaklukan singa adalah dengan menunjukan kepada singa tersebut bahwa kitalah pemimpin dari singa tersebut karena apabila singa merasakan bahwa dia lebih hebat daripada kita, maka fatal akibatnya bagi kita. Seperti seorang pawang singa di sirkus – sirkus yang mampu membuat singa yang buas melompati lingkaran api, disanalah peran penting seorang pawang. membuat si pawang menjadi pemimpin bagi singa dan memaksa singa mematuhi perintahnya.

Bagian terpenting tentang Tuhan terletak bukan di bagian kedua ketika Pi bertahan hidup di lautan namun justru berada di bagian pertama ketika Pi menganut tiga agama sekaligus yaitu Hindu, Islam dan Kristen. Bagian ini tidak diperdalam oleh Martel dan juga Ang Lee, mungkin karena terlalu kontroversi. Martel terlalu sibuk dengan strategi bertahan hidup di lautan dan Ang Lee terlalu sibuk dengan visual graphic hingga melupakan bagian terbaik Life of Pi yaitu tentang Tuhan. Lucunya, Presiden Obama juga merekomendasikan Life of Pi berdasarkan visual graphic-nya bukan tentang bagian terbaik yaitu tentang Tuhan.

Penjelasan tentang agama dalam Life of Pi merupakan kunci utama dalam buku ini, Pi menemukan Tuhan. hubungan ketiga agama ini dijelaskan melalui kehebatan masing – masing agama. Pada halaman 80 – 84, Pi dikenalkan pada ajaran Hindu melalui bibinya yang mengajarkan bagaimana ritual hindu dilakukan dan kemudian Pi menjelaskan bahwa Agama Hindu bertemu Tuhan melalui indera – indera yang ada dalam diri manusia. Pada halaman 90, dimulai ketika Pi bertemu dengan pastor yang mengajarkan tentang kasih dalam Agama Kristendan pengorbanan Yesus kepada umatnya dengan cara mengorbankan diri di tiang salib. juga pada halaman 97, dengan sebuah kesederhanaan kehidupan Mr. Kumar dan ketika sholat, Pi merasa dekat dengan Tuhan melalui ajaran Agama Islam. Pencarian Tuhan inilah yang benar – benar membuat Life of Pi menjadi novel yang bagus pada bagian ini.

Martel tidak membiarkan pencarian Tuhan Pi berjalan mulus, Martel menyisipkan kelemahan – kelemahan agama Hindu, Kristen dan Islam melalui pertengkaran antara Pandita, Pastor dan Imam. Mereka berjuang memperebutkan hati Pi untuk memilih salah satu dari tiga agama itu. Kelemahan tersebut dijabarkan dalam kalimat – kalimat seperti pada halaman 110: Seperti Kristen yang dibilang kanibal karena memakan babi dan menyembah patung, Islam yang dibilang memiliki banyak istri dan Hindu yang dibilang menyembah boneka yang didandani serta memperbudak manusia. Semua pertentangan ini diakhiri dengan sebuah kalimat yang sangat moderat, kalau tidak mau dikatakan introduction to Agnostic oleh Pi, yaitu:

” kata Gandhi semua agama baik dan aku hanya ingin mengasihi Tuhan ” Life of Pi – halaman 112

Bagian pertentangan antar agama dari Life of Pi adalah yang paling berkesan bagi penulis, sayangnya Martel hanya menjelaskan dalam 4 lembar. bahkan bagian ini tidak ada di filmnya. Sayang sekali padahal Life of Pi memiliki potensi menjadi lebih baik dan fokus akan tema yang diangkat apabila hal ini dieksplorasi lebih mendalam, daripada tentang cara selamat di lautan yang habis – habisan dibahas dibagian kedua.

Sampailah di bagian kedua dalam buku Life of Pi yang disebut sebagai Samudra Pasifik. Menurut penulis, bagian ini adalah yang paling tidak menarik dari Life of Pi meskipun banyak orang memuji bagian ini sebagai bagian paling dramatis dalam film dan bukunya. Bagian ini adalah ketika Kapal Tsimtsum hancur dan Pi harus berdua di Samudra Pasifik dengan Richard Parker. Life of Pi yang memiliki alur maju ini, setelah menceritakan kehidupan Pi lalu bertahan hidup di lautan, menceritakan bahwa bagian kedua buku ini bercerita tentang bagaimana Pi bertahan hidup di lautan. Martel melakukan blunder besar di sini karena ia tidak memasukan unsur – unsur yang membuat novelnya lebih dramatis, mungkin Martel bisa memasukan unsur ketika Pi mengingat keluarganya dan kasih sayang orang tuanya. Martel malah seperti seorang penulis travelling book yang menjelaskan cara bertahan hidup di lautan. kesalahan yang diperbaiki dengan lebih baik oleh Ang Lee di filmnya karena memasukan unsur – unsur dramatis seperti catatan harian Pi yang berisi life guide yang terbang tertiup angin, membuat Pi bertahan tanpa life guide-nya dan pelukan dengan Richard Parker yang sungguh membuat haru. meskipun begitu, tetap saja kurang unsur dramatis yang digali di filmnya juga

Apa yang kita pelajari dari bagian kedua dari buku ketiga Yann Martel ini? tentu saja kita mempelajari bagaimana menaklukan binatang buas di lautan seperti kisah singa di bagian pertama. Ingat Pi bersama dengan Richard Parker si Harimau bengal yang bisa membunuhnya suatu saat dan Pi mencoba melawan rasa takutnya. inilah cara yang dilakukan oleh Pi dalam menaklukan Richard Parker pada halaman 291 – 293:

  1. Pilihlah hari ketika suasana laut sedang berombak kecil
  2. Lepaskan Jangkar agar sekoci stabil
  3. Usiklah binatang buas tersebut
  4. Tetap waspada, pasang kontak mata pada binatang tersebut
  5. Tunjukan kemarahanmu, dan mulai memainkan peluit agar menarik perhatian.
  6. Goyangkan sekoci perlahan – lahan
  7. Ketika binatang tersebut sudah mual, jangan sampai kita ikut mual. bijaklah dalam menggoyang
  8. Ulangi langkah – langkah di atas secara terus menerus.

Life of Pi yang mendapatkan 11 nominasi Oscar dan memenangkan 4 diantaranya juga memasukan bagaimana cara membunuh hewan di lautan. Penulis berpendapat seharusnya buku Life of Pi masuk ke tema Bulan September saja karena memang isinya tentang travelling book. Kita juga disuguhkan bagaimana cara memakan makanan di lautan. Pada halaman 282 – 283, Pi mengajarkan untuk menangkap ikan seperti Dorado, Kerapu, Tenggiri dan ikan terbang. Tidak memakan binatang berbahaya seperti Ubur – ubur dan meminum darah kura – kura yang mampu menambah stamina, lalu untuk membunuh ikan secara cepat adalah dengan menekan matanya.

Pada saat bertahan di lautan inilah pengembangan karakter Pi diekplorasi secara habis – habisan oleh Martel, karena Pi tinggal di India dan seorang vegetarian, suka tidak suka ia harus memakan daging. maka gejolak emosi dimulai ketika, Pi harus membunuh binatang dan memakannya agar ia tidak mati kelaparan. Tidak lupa Martel memasukan unsur agama didalamnya, yaitu Ikan yang dalam cerita Hindu adalah sebagai jelmaan Wisnu. Kondisi Dilemma dan psikologis Pi tergambar jelas disaat ia memakan binatang – binatang laut tersebut.

Martel benar – benar menjadikan Life of Pi sebagai travelling book untuk bertahan di lautan ketika juga, Martel menyelipkan hal – hal yang harus dilakukan untuk selamat di lautan. seperti pada halaman 241 – 242:

  1. Baca Petunjuk dengan hati – hati.
  2. Tidak meminum air kencing, darah burung dan air lautan.
  3. Untuk melumpuhkan ikan, tekan matanya
  4. Hati – hati dalam merawat luka
  5. Naikan kaki selama 5 menit dalam setiap jam
  6. Hindari melakukan kegiatan yang tidak perlu. apabila bosan lakukan kegiatan sepeti bermain kartu.
  7. Air warna hijau lebih dangkal daripada air warna biru.
  8. Waspada terhadap awan – awan dari kejauhan.
  9. Jangan berenang, sekoci lebih cepat daripada berenang.
  10. Tidak membuang air kecil di pakaian apabila kepanasan.
  11. Selalu cari tempat berteduh
  12. Kalau haus, hisap sebutir kancing
  13. Penyu sangat berguna untuk tubuh
  14. Jangan patah semangat dan selalu optimis

Membaca life guide seperti itu penulis merasa Martel lost his point karena maksud utama dalam cerita Life of Pi adalah tentang bagaimana kita percaya akan Tuhan, bukannya membuka penjelasan panjang lebar tentang bagaimana bertahan di lautan. Nyaris seluruh bagian kedua dari Life Of Pi adalah seputar bertahan di lautan. unsur Tuhan sangat sedikit disentuh. Penulis menyatakan Martel GAGAL dalam membentuk cerita penuh dramatis hingga akhirnya Pi menemukan Tuhan. Chart dibawah ini mengambarkan kegagalan Martel mengolah unsur dramatis dalam Life of Pi, bisa dibayangkan kehidupan Pi di lautan hampir rata – rata adalah tentang Richard Parker dan bagaimana ia bertahan hidup, sementara Tuhan hanya menempati kurang lebih 15 persen di bagian kedua Life of Pi.

Kehancuran total di bagian dua adalah karena kurangnya unsur dramatis, Life of Pi versi film besutan Ang Lee tidak berbeda jauh. Alih – alih menambal sisi buruk buku ini justru malah membuat semakin menenggelamkan makna sebenarnya. Karena kembali ke awal, fokus Ang Lee lebih kepada visual graphic. Seharusnya Martel dan Ang Lee fokus kepada tema utama yaitu Tuhan dan ketakutan. Hal tersebut yang seharusnya digali secara mendalam di Life of Pi bukan tentang visual graphic ataupun life guide bertahan hidup di lautan.

Eksekusi penceritaan Martel menjadi semakin berantakan ketika mendadak tanpa banyak unsur dramatis dibagian kedua novel ini, Pi berbicara seperti halaman 399 bagian ketiga Life of Pi:

“Semakin kau jatuh dalam penderitaan, semakin tinggi pikiranmu ingin lepas. Wajarlah kalau dalam keadaan tanpa harapan dan putus asa, dalam terjangan penderitaan yang tidak ada habisnya, aku jadi berpaling kepada Tuhan” – Life of Pi

Dari quote di atas, Martel mencoba melakukan titik balik di bagian ketiga setelah penderitaan di atas perahu pada bagian kedua yaitu Pi akhirnya menemukan Tuhan. Kalimat di atas jadi terasa tidak begitu bermakna karena permasalahannya adalah tanpa banyak penggambaran dramatis bagaimana mungkin Pi menemukan Tuhan seperti dalam quote tersebut. Martel harusnya memperbanyak element dramatisir ,bukan element travelling book.

Kesimpulan

Life of Pi gagal membuat penulis untuk percaya kepada Tuhan melalui ceritanya yang dikatakan, “bisa membawa siapapun yang membaca akan percaya kepada Tuhan”. Life of Pi pun gagal menjadi buku perjalanan spiritual karena terlalu banyak element Travelling book. Buku ini hanya bagus ketika bagian pertama ketika Pi di India dan bagian akhirnya ketika Pi berada di Meksiko. bagian terpentingnya yaitu bagian keduanya justru hancur berantakan. Bagian pertama dan bagian ketiga itu adalah Life of Pi dan bagian kedua bukan Life of Pi tapi Travelling book!. Bagian pertama dan ketigalah yang menyelamatkan buku ini secara tema dan cerita yang diangkat.

Pada akhirnya, Life of Pi akan lebih dikenang sebagai sebuah film karena berhasil merebut 4 Oscar pada tahun 2013 daripada bukunya karena, filmnya jauh lebih menarik daripada buku Life of Pi sendiri. Juga karena filmnya berhasil banyak menambal kekurangan – kekurangan dari bukunya dengan lebih banyak unsur dramatis di dalam bagian kedua yang merupakan unsur terpenting dan dilupakan oleh Martel di dalam bukunya.

Life of Pi direkomendasikan untuk pembaca yang ingin tahu bagaimana bertahan hidup di lautan. Juga untuk pembaya yang ingin mengetahui bahwa Tuhan tidak selamanya tentang agama tapi melebihi itu, Tuhan ada untuk mengalahkan rasa takut dan mendapatkan pencerahan pada diri sendiri serta mengasihi Tuhan.

Nilai: 3 dari 5 secara keseluruhan.

Posted in Adventure | Tagged , , , , | Leave a comment

Pride and Prejudice: Kisah percintaan ditengah konflik kelas menengah Inggris pada abad 19.

Pride & Prejudice

Judul Buku: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerbit: PT. Mizan Pustaka ( Qanita )
Tahun Terbit: Cetakan Keenam, Mei 2012
Tebal: 588 Halaman, 20,5 cm
ISBN: 978-602-8579-54-4 ( Softcover )
Harga: Rp. 59.000

“Sejak awal, peringaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi” ( Jane Austen – Pride and Prejudice ).

Cinta adalah alasan mengapa manusia dibuang ke bumi, karena Adam menuruti keinginan Hawa memakan buah terlarang. Cinta jugalah yang membuat seseorang rela mati demi orang yang ia cintai seperti kisah Romeo dan Juliet serta Cleopatra – Antonius. Cinta bahkan mengubah seseorang menjadi orang yang berbeda seperti dalam Sweeney Todd: The Barber in The Fleet Street, yang berubah menjadi psikopat demi menyelamatkan nyawa anaknya, serta Bella Swan dalam Twilight Saga yang rela menjadi Vampire demi kekasih tercintanya.

Persamaan dari semua kisah – kisah cinta di atas adalah cinta merupakan sebuah tragedi. Tragedi adalah tema favorit percintaan, apabila mengambil sudut pandang dari Inggris. Negara inilah yang memiliki kisah percintaan penuh pelik dan tragedi yang sangat banyak bahkan menjadi tema umum. Cerita cinta yang berasal dari Inggris yang berujung tragedi yaitu: Hamlet, Romeo – Juliet dan Sweeney Todd. Roman – roman klasik inggris selalu bercerita tentang hal – hal yang tragis.

Tema tragis yang menjadi ramuan utama cerita – cerita inggris, tidak digunakan secara utuh oleh Jane Austen. Jane Austen sangat berbeda dengan kebanyakan cerita – cerita yang berasal dari Inggris ini. Jane Austen menawarkan percintaan ditengah konflik masyarakat kelas menengah. Perbedaan inilah yang kemudian membuat Pride dan Prejudice menjadi cerita cinta yang tidak biasa karena Jane Austen secara mengejutkan keluar dari pakem cerita – cerita Inggris yang biasanya penuh tragedi. Hal inilah yang kemudian menjadikan Pride and Prejudice menjadi bahan penjelasan yang menarik untuk digali lebih mendalam.

Sinopsis 

Tokoh utama dalam kisah Pride and Prejudice ( berikutnya akan disebut PaP) adalah Elizabeth Bennet yang tinggal di Longbourn. Elizabeth Bennet memiliki empat saudara yaitu Jane, Mary Catherine ( Kitty ) dan Lidya. Sebagai anak kedua dari keluarga Bennet, Elizabeth memiliki peringai yang tidak seperti wanita pada umumnya pada saat itu, ia pemberontak dan memiliki perkataan yang menyakitkan. Elizabeth memiliki ayah dan ibu yang memiliki kepentingan masing – masing, sang ayah tidak memiliki apapun untuk diwarisi untuk kelima anaknya karena kakek Elizabeth memberikan semua warisan kepada sepupu ayah Elizabeth yaitu Mr. Collins. Berdasarkan hal tersebut, sang ibu menginginkan semua anak – anaknya untuk menikah dengan pria kaya agar masa depan anak – anaknya terjamin.

Kedatangan Mr Bingley yang merupakan pria kaya ke Longbourn, menarik perhatian ayah Elizabeth dan kemudian mengundangnya ke rumahnya. Setelah kedua kali datang ke Loungbourn, diadakanlah acara pesta dansa yang kemudian membuat Mr. Bingley jatuh cinta kepada kakak Elizabeth yaitu Jane. Di acara pesta dansa inilah, Elizabeth bertemu dengan Mr. Darcy, pria yang dianggap menyebalkan olehnya. Mr. Darcy mengagumi Elizabeth pada saat itu. Namun, Saat itu Elizabeth menampiknya mentah – mentah karena Mr. Darcy menghinanya di acara tersebut. Meskipun membenci Mr. Darcy namun perlahan – lahan Elizabeth tertarik dengan segala hal yang dimiliki Mr. Darcy. Dengan segala kebencian dan saling ketidaktertarikan, akhirnya keduanya saling memahami bahwa mereka sebenarnya saling mencintai.

Analisa

Tahun ini, PaP berusia 200 tahun sejak pertama kali dipublikasikan pada tahun 1813. Sebuah prestasi luar biasa untuk sebuah karya sastra. Prestasi lainnya adalah PaP telah menjadi bacaan yang paling dicintai di dunia ( berdasarkan BBC tahun 2003 ). Kesuksesan novel ini juga membawa kesuksesan pada film-nya yang dibintangi oleh Keira Knightley yang untung besar di Box Office Amerika Serikat. Luar biasa bagaimana pengaruh Novel PaP di dunia. Meskipun filmnya sukses besar namun perbedaan mencolok dari Novel dan film PaP adalah film lebih menonjolkan percintaan antara Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet, sementara novelnya lebih meluas daripada hal tersebut. Elizabeth dan Mr. Darcy hanyalah menjadi sudut pandang untuk masyarakat Inggris pada abad 19. Bisa dikatakan Elizabeth dan Mr. Darcy menjadi penonton dan pengamat hal – hal yang terjadi saat itu. Disinilah kepintaran Jane Austen ( berikutnya disebut JA) dalam meramu novel yang menceritakan sosiologi masyarakat pada abad 19.

Qanita sebagai penerjemah novel PaP terlihat kaku dalam menerjemahkan PaP, karena bahasa yang digunakan sangatstraight dengan apa yang ditulis JA dalam versi bahasa Inggris. Seperti menerjemahkan langsung tapi meng-edit dan mensinergikan dalam bahasa Indonesia yang lebih enak untuk dibaca. Qanita sepertinya menginginkan bahwa PaP tetaplah menjadi sastra Inggris yang original seperti JA buat tanpa peng-edit-an yang berlebih. Namun tetaplah ini sebuah blunder karena membuat PaP tidak menjadi mudah untuk dibaca karena memiliki penulisan yang benar – benar langsung translate dari bahasa JA ke dalam bahasa Indonesia. ada dua hal yang menganggu dalam persoalan originalitas yang dipertahankan Qanita ini yaitu:

1. Originalitas JA yang dipertahankan Qanita yang membuat rumit adalah penggunaan Mr, Miss, Mrs sangat – sangat menganggu. Qanita sadar bahwa yang terkenal dalam kisah PaP adalah Mr. Darcy bukan Fitzwilliam Darcy, hal ini masih bisa dimaklumi. Namun tetap mempertahankan nama dengan ungkapan diawali Mrs, Mr, Miss sangat – sangat menganggu, seperti Miss Bingley, kenapa tidak disebut sebagai Caroline saja dalam penulisan novel terjemahan ini. Gangguan ini menyebabkan kebingungan karena Keluarga di dalam dalam PaP sangat banyak dan penyebutan nama keluarga dan tambahan Mr, Mrs, Miss tidak membuat novel ini menjadi mudah dimengerti. Penyebutan nama depan akan menjadi lebih enak di nikmati apabila misalkan Lidya ( untuk menyebut adik Elizabeth daripada disebut Miss Bennet seperti Qanita tulis).

2. Originalitas tidak hanya pada penggunaan nama karakter bahkan kepada bab yang ada dalam novel terjemahan ini, misalkan pada bab 13 ( hal. 105 ) yang terputus dan bersambung pada bab 14. dua bab ini menceritakan tentang kedatangan Mr. Collins ke rumah Elizabeth dan makan malam bersama. Dua bab yang seharusnya bisa dijadikan hanya di dalam bab 13 karena temanya dan ceritanya masih berhubungan namun dipecah menjadi dua bab. sangat menganggu. Kritik ini juga ditujukan untuk JA karena kurang teliti dalam dua bab ini.

JA yang dilahirkan pada tahun 1775 dan kemudian wafat 41 tahun setelah itu, memberikan gambaran setiap karakter dengan sangat bagus dalam PaP terutama untuk karakter – karakter utama karena, JA tidak secara langsung menulis sifat karakter dalam novelnya, melainkan dengan kelakuan karakter tersebut kepada karakter lainnya. Misalkan dalam penggambaran Karakter Elizabeth, JA tidak hanya memberikan gambaran karakter melalui satu paragraf saja namun juga dengan paragraf – paragraf setelah itu. Elizabeth digambarkan pemberontak dan tidak tahu sopan santun karena menolak ajakan dansa Mr. Darcy ( hal 42 ). Elizabeth yang suka berkata menyakitkan dan menghina Miss Bingley ( hal 88 ). Karakter lainnya yang digambarkan dengan sama baiknya oleh JA adalah karakter Mr. Darcy yang digambarkan sebagai orang yang hatinya keras namun baik hati oleh sahabatnya Mr. Bingley ( hal. 78 ), gambaran sifat Mr. Darcy yang dikatakan sebagai seseorang yang angkuh oleh Mr. Wickham (hal. 128 ). Gambaran – gambaran sifat dua karakter utama ini yang membuat kisah PaP menarik karena Elizabeth dan Mr. Darcy bersifat sama – sama negatif. Dua sifat negatif yang bertemu kemudian berubah menjadi cinta. Romantisme yang dibangun melalui sifat inilah yang membuat PaP menjadi novel romance yang bagus.

Plot utama PaP adalah tentang Mr. Darcy dan Elizabeth yang terjalin dalam hubungan mereka berdua yang naik turun yang digambarkan maju kedepan. PaP menjadi menarik apabila mengambil sudut utama penceritaan melalui karakter Elizabeth karena Elizabeth-lah yang menjadi kunci pemahaman romantisme PaP.

Hal ini dapat terlihat bagaimana Elizabeth dikejar cintanya oleh Mr. Collins ( hal. 164 ) hingga ia menolak lamaran Mr. Collins ( hal. 180 ) karena Elizabeth dengan harga dirinya ( pride ) menolak dijadikan alat balas budi. Elizabeth mengagumi banyak pria, hal ini dapat terlihat dari dekatnya ia dengan Wickham, Mr. Collins dan Mr. Darcy ( bab 32 – 33). Meskipun Elizabeth membenci Mr. Darcy namun dalam PaP mengambarkan Mr. Darcy memberikan pengakuan cintanya ( hal 290 ), namun Elizabeth yang masih terpengaruh karena perkataan Mr. Wickham ( hal 342 ) menimbulkan konflik keduanya. Kisah cinta Elizabeth dan Mr. Darcy tidak habis disitu, JA dengan cerdasnya membuat peran Mr. Darcy menjadi sangat vital dalam hidup Elizabeth ketika ia menolong Lidya dan Wickham yang melarikan diri, yang membuat Elizabeth luluh terhadapnya ( hal. 466 ). Tidak berhenti sampai disana ketika semuanya terlihat normal JA memberikan lagi konflik dalam PaP dengan perkataan Caroline yang mengatakan bahwa Elizabeth tidak setara derajatnya dengan Mr. Darcy dan Elizabeth tidak pantas dengan Mr. Darcy ( hal. 535 ). Hambatan cinta juga dirasakan oleh Elizabeth yang ingin menikah dengan Mr. Darcy dengan berusaha untuk membujuk sang ayah karena sang ayah tidak ingin kehilangan Elizabeth sebagai anak kesayangan ( hal. 567 ). Semua konflik dan hambatan cinta Elizabeth dan Mr. Darcy adalah romantisme yang ada dalam PaP yang digambarkan dengan penuh lika – liku dan konflik namun PaP memiliki alur yang sangat lambat karena JA terlalu banyak menggambarkan Elizabeth dan dunia di sekelilingnya tapi bisa dimaklumi karena itulah sisi menarik dari PaP itu sendiri. Romantisme yang dibangun oleh JA sayangnya tidak begitu terasa ketika saya melihat layout surat kakak Elizabeth yaitu Jane kepada Elizabeth ( hal. 228 ). layout nya sangat tidak mengenakan untuk dilihat sebagai surat, mungkin sebaiknya ditambahkan dengan gambar di samping – samping surat tersebut. Sekali lagi, Qanita kembali terjebak dalam originalitas sebuah karya sastra hingga layout-nya juga sama seperti yang JA buat dalam PaP.

interaksi antar karakter dalam Pride and Prejudice

JA yang meninggal karena sakit TBC ( tuberculosis ) ini membuat PaP dengan kisah percintaan dibawah keadaan sosilogi masyarakat pada saat itu. hal ini dapat terlihat dalam dua kata yang terdapat dalam judulnya sendiri Pride danPrejudice ( harga diri dan Prasangka ). Pride dalam hal ini adalah dimana karakter Elizabeth yang keras hati dan tidak ingin mengalah dengan keadaan dapat terlihat dalam bagian ketika adu mulut antara Elizabeth dan adik Mr. Bingley yaitu Caroline ( hal. 59 – 62 ).

Disaat penggambaran plot inilah, PaP menunjukan bahwa ini novel yang berkualitas seperti penjabaran plot di atas. hal ini dapat terlihat dalam kata Kata pride dalam novel PaP. Hal tersebut adalah

1. Ketika harga diri mamanya Elizabeth ketika Mr. Darcy berkata Longbourn adalah sebuah “desa” ( hal. 68 ).
2. Kaburnya adik bungsu Elizabeth yaitu Lidya dengan Wickham yang berarti mencoreng nama baik keluarga Bennet (hal. 406 ).
3. Konflik harta warisan antara Mr. Collins dan papanya Elizabeth ( hal 100 ).
4. Adanya perang harga diri antara tentara dan para orang kaya saat itu ( hal 115 ).
5. Perang kekayaan antar tiap orang – orang kaya saat itu. harta berarti kenaikan harga diri. ( hal. 119 ).

Setelah kata pride, berikutnya adalah kata prejudice yang berarti prasangka. hal ini dapat terlihat dengan perebutan harta warisan antara Wickham dan Mr. Darcy dan gambaran Wickham akan Mr. Darcy yang membuat Elizabeth merasakan kalau Mr. Darcy menyakiti hati Wickham karena mengambil seluruh hartanya padahal Wickham adalah anak kesayangan ayah Mr. Darcy ( hal. 124 ).

Kondisi masyarakat Inggris yang digambarkan dalam PaP menimbulkan sebuah analisa yang harus ditelusuri lebih dalam yaitu kemungkinan JA mempengaruhi tulisan yang terkenal pada masa setelah PaP terbit yaitu Anna Karenina-nya, Leo Tolstoy yang banyak membahas soal kondisi politik dan kondisi masyarakat. JA selangkah lebih cepat saat itu daripada Tolstoy. Kondisi masyarakat yang digambarkan JA adalah masyarakat yang materialistis, yang segalanya diukur oleh uang. Hal ini dapat terlihat bagaimana gadis – gadis Longbourn berusaha untuk menarik perhatian pria – pria kaya yang datang ke tempat mereka, hal ini digambarkan dengan kakak Elizabeth yang berusaha menarik perhatian Mr. Bingley ( hal. 34 dan 111 ). Hal kedua yang harus dicermati adalah bagaimana gadis – gadis pada saat itu sangat tergila – gila dengan tentara, tentara digambarkan sama harkatnya dengan bangsawan ( hal 81 ). Hal ini dapat terlihat dengan usaha dua adik Elizabeth yaitu Lidya dan Kitty yang berusaha menarik perhatian para tentara melalui pesonanya ( hal. 113 ).

PaP adalah novel tentang Feminisme. Kelakuan wanita keras dan tidak mau diatur yang digambarkan melalui Elizabeth adalah Feminisme yang secara tidak langsung ditulis oleh JA. JA dengan luar biasa memasukan isu yang krusial ini dan menggambarkan dengan apik melalui kondisi – kondisi yang ada seperti pengambaran review di atas yaitu perempuan yang ketergantungan oleh laki – laki karenanya memilih untuk menikah dengan orang kaya, Perempuan yang seenaknya dijadikan alat balas budi dan Elizabeth menentang itu. Perempuan yang digambarkan hanya bisa pasrah dan menunggu laki – laki datang. Isu Feminisme adalah hal krusial pada abad 18 yaitu ketika kemerdekaan Amerika dan Revolusi Prancis dimana keduanya menuntut persamaan dan kesetaraan hak. JA datang membawa isu ini 50 tahun setelah kemerdekaan Amerika dan Revolusi Prancis. Disinilah salah satu kehebatan novel ini karena berhasil memasukan banyak unsur yaitu sosiologi masyarakat, Politik Feminisme dan Romantisme sastra. Pesan politik Feminisme inilah yang membuat JA berbeda sangat jauh dengan novel – novel inggris kebanyakan yang menceritakan Tragedi dalam percintaan. Secara tidak langsung JA mensimbolkan Elizabeth Benneth sebagai simbol Feminisme dalam novel ini.

Kesimpulannya, PaP memiliki kekuatan yang bagus untuk sebuah buku sastra klasik yaitu pengambaran karakter dan plot yang bagus, penceritaan kondisi sosiologis dan politik yang menarik pada saat itu, hingga pesan yang ingin disampaikan secara tersirat melalui sebuah buku yaitu Feminisme. Buku PaP sangat layak untuk dibaca dan dipelajari sebagai sebuah novel yang berhasil menciptakan romantisme dan kondisi sosiologis masyarakatnya pada abad 19. Novel ini sangat direkomendasikan tidak hanya untuk orang – orang yang ingin mempelajari sastra namun juga yang tertarik dengan sejarah dan sosiologi.

Nilai: 4 dari 5 secara keseluruhan.

Posted in Romance | Tagged , , , , | Leave a comment

The Lost Symbol: Penelusuran Misteri Kebijakan Kuno Freemason

The lost symbol

Judul Buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Mizan Pustaka Utama ( Bentang Pustaka )
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2010
Tebal: 712 Halaman, 23,5 cm
ISBN: 978-979-1227-87-2 ( Hardcover )
Harga: Rp. 110.000

” Sebentar lagi kita akan menyaksikan renaisans tertinggi kita, setelah milenium kegelapan, kita akan melihat semua ilmu pengetahuan, pikiran, dan bahkan agama kita mengungkap kebenaran ( Dan Brown – The Lost Symbol ) “

Pernahkah kita menyadari kalau sebuah gedung terkenal di Amerika Serikat yaitu Gedung Capitol, dimana gedung tersebut adalah tempat berkumpulnya para senator dari seluruh Amerika Serikat ternyata menyimpan sebuah misteri yang berisi kebijakan – kebijakan kuno? atau, pernahkah kita mengetahui bahwa seluruh kota di Washington DC, Amerika Serikat ternyata dibangun dengan menggunakan pedoman – pedoman kebijakan kuno. Ketidaksadaran inilah yang kemudian digambarkan oleh Dan Brown melalui petualangan seorang profesor bernama Robert Langdon yang sekali lagi terjebak untuk memecahkan teka – teki kebijakan kuno yang menyimpan misteri sejak berdirinya Amerika Serikat hingga saat ini.

Sinopsis.

Robert Langdon kembali dalam petualangan penuh teka – teki, rahasa perkumpulan kuno, simbol – simbol keagamaan dan kekuasaan di masa lalu. Petualangan Robert Langdon kali ini bertempat di ibukota Amerika Serikat yaitu Washington DC. Professor dari Universitas Harvard ini mendapat undangan dari seorang sahabat lamanya yaitu Peter Solomon – seorang anggota mason – untuk memberikan ceramah di gedung tempat anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan para senator merumuskan undang – undang yaitu Gedung Capitol. Alih – alih memberikan ceramah, Robert Langdon harus berurusan dengan seorang psikopat yang menculik Peter Solomon dan memberikannya teka – teki untuk ditebus dengan nyawa sahabatnya tersebut. Disisi lain, adik dari Peter Solomon yaitu Katherine, sedang mempelajari dan meneliti sesuatu yang dapat mengubah dunia di Museum Smithsonian juga mendapat serangan dari penculik Peter Solomon untuk menguasai penemuan Katherine yang luar biasa yang dikatakan dapat mengubah dunia. Penculik Peter Solomon tidak main – main dengan nyawa Peter Solomon, ia memberikan sebuah tangan kanan Peter Solomon yang berisi teka – teki dan sebuah pesan bahwa satu – satunya orang yang dapat menyelamatkan Peter, hanyalah Robert Langdon sendiri.

Analisis

Hadir dengan terjemahan Indonesia yang lebih banyak 200 halaman lebih dari edisi pertamanya ( 712 halaman ), The Lost Symbol lebih “kaya” pengetahuan daripada dua buku sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal – hal yang Dan Brown ceritakan dalam The Lost Symbol seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, Sejarah amerika serikat, arsitektur di Washington DC hingga persoalan ketuhanan yang berujung pada pluralisme. Dan Brown melakukan ekspansi pada isi novelnya dengan memberikan kajian – kajian baru selain arti simbol, meskipun simbol masih menjadi sajian utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown menjawab kritikan pembacanya yang menginginkan Dan Brown menambahkan literalur lain selain simbol – simbol kuno dalam novelnya. Dan Brown sukses menjawab kritikan tersebut namun, dengan kekayaan pengetahuan baru selain simbol, penulis yang selalu dicap sebagai anti kristen ini, novel The Lost Symbol seperti “Jack of All Trades, Master of Nothing”. Tidak ada pembahasan mendalam soal suatu simbol seperti Dan Brown lakukan dalam Da Vinci Code ( Monalisa ) dan Angels & Demons (fire-earth-air-water). Sangat disayangkan, padahal itulah ciri khas utama semua novel Dan Brown yang terdapat Robert Langdon di dalamnya. Meskipun pembahasan akan simbol lebih sedikit daripada Da Vinci Code namun, sama seperti Da Vinci Code, pembahasan tentang simbol merata hingga berakhirnya cerita yang pasti memuaskan para pembaca setianya.

Kepintaran penulis yang sukses menjual novel Da Vinci Code sebanyak 250 juta eksemplar ini dapat terlihat dalam penggambaran detail tempat kejadian di dalam novel. Dan Brown, sukses menciptakan kegairahan membaca dengan tidak hanya menyebut nama tempat, tapi juga menjelaskan sejarah tempat tersebut, contohnya seperti; pada halaman 129 dimana Dan Brown menjelaskan asal mula nama ibukota Amerika Serikat yaitu Washington yang ternyata dulunya ingin dinamakan Roma. Kepintaran Dan Brown lainnya adalah detail dalam penggambaran lokasi dan isi dari lokasi tersebut, ” Atrium yang di dominasi delapan kolom doric dari granit tampak hijau itu tampak seperti makam hibrida dengan patung – patung marmer hitam, mangkuk – mangkuk lampu, salib – salib teutonic , medali – medali phoenix berkepala dua , dan tempat – tempat lilin berhias kepala Hermes ( The Lost Symbol, halaman 629 ).

Alur yang maju dan hanya sesekali melakukan alur mundur seperti penggambaran sejarah penculik Peter Solomon merupakan nilai tambah novel ini karena, sesuai dengan ciri novel Suspense lainnya yaitu; menciptakan ketegangan dan hanya sedikit menurunkan tensi dalam membaca. The Lost Symbol melalui alur yang cepat memaksa pembaca tidak beristirahat dalam berpikir karena teka – teki yang tidak ada habisnya, setiap lembaran adalah pembahasan simbol dan teka – teki baru dan situasi genting yang dihadapi Robert Langdon. Alur yang cepat khas novel suspense pada umumnya tidak membuat Dan Brown hanya berfokus pada perburuan penculik sahabatnya, namun juga menciptakan misteri – misteri baru, seperti misalnya ketika halaman 487 ketika arti teka – teki benda yang pecahkan Robert Langdon terpecahkan ternyata masih ada misteri lainnya dibalik itu semua. Pembaca novelnya “dipaksa” untuk tetap mengikuti alurnya hingga halaman terakhir untuk menguak semua misterinya.

Dan Brown yang menyukai anagram dan puzzle ketika masih muda, memasukan juga salah satu elemen terseru yang selalu disukai para penggemar bukunya yaitu gambar yang berasal dari zaman dahulu. Dalam The Lost Symbol, beberapa kali Dan Brown memasukan gambar enkripsi tulisan teka – tekasi seperti pada (halaman 286). Untuk memudahkan para pembacanya memahami “dunia” The Lost Symbol, Dan Brown juga memasukan peta – peta, seperti peta kota Washington yang berisi gedung – gedung yang dibangun sejak dahulu. penggambaran peta – peta ini juga membuat para pembaca novel The Lost Symbol ingin mengunjungi tempat – tempat misterius yang berada di Washington D.C karena detail penceritaan Dan Brown.

Banyak kritikus yang mempertanyakan benang merah yang dibangun oleh Dan Brown, hal ini disebabkan oleh kegagalan Dan Brown menciptakan benang merah yang kuat dari sekuel Angels & Demons ke Da Vinci Code, belajar dari hal tersebut, Dan Brown akhirnya menciptakan benang merah yang jelas antara novel Da Vinci Code dan The Lost Symbol yaitu pembahasan soal SangReal ( halaman. 285 ) yang merupakan pembahasan utama buku Da Vinci Code. Benang merah yang cukup mengagetkan adalah ketika Robert Langdon bertanya pada Sophie Neveu mengantai Sophie menuju “keluarganya” pada novel Da Vinci Code yaitu ” apakah Tuhan adalah manusia?” Robert Langdon akhirnya menemukan jawabannya di The Lost Symbol.

Penggambaran karakter yang kuat dan memiliki karisma adalah salah satu keunggulan dari The Lost Symbol. Dan Brown menjadikan peran antagonis dalam novel ini benar – benar luar biasa kuat, tidak hanya seperti Da Vinci Code yang hanya seorang pembunuh bayaran atau Angels & Demons yang seorang pastur. Dan Brown menaikan level penjahatnya dengan memiliki fisik dan kepintaran yang luar biasa, seperti gabungan dua penjahat dalam dua novel sebelumnya, bahkan menambahkan perilaku psikopat dalam penjahat The Lost Symbol ini dan disisi lain “memanusiawikan” penjahatnya seperti pada (halaman 303). Penggambaran karakter lainnya juga tidak terlupakan oleh penulis berencana menerbitkan 12 edisi seri Robert Langdon ini; seperti Inoue Sato, Dean Galloway bahkan Peter Salomon yang mereka semua memiliki maksud dan interest masing – masing dalam perburuan kebijakan kuno ini. Tidak terlupa Dan Brown memasukan pemanis dalam novelnya yaitu tokoh Katherine Solomon sebagai partner Robert Langdon dalam mengungkap misteri penculikan sahabatnya. Salah satu hal unik dalam novel ini adalah Dan Brown berhasil memanusia-superkan karakter Robert Langdon yang berhasil memecahkan teka – teki dalam keadaan darurat (halaman: 529).

Dan Brown yang mengawali karir sebagai musikus ini mengubah total pandangan masyarakat umum kepada organisasi Freemasonry. Freemasonry yang selalu digambarkan sebagai organisasi dibalik semua konspirasi di dunia ini, oleh Dan Brown digambarkan sebagai organisasi yang sebenarnya tidak sekuat yang dibayangkan oleh masyarakat umumnya. Hal ini dapat terlihat ketika Robert Langdon menerima bantuan “hanya” dari seorang Dean Galloway yang merupakan Direktur museum Smithsonian, seharusnya kalau Freemason itu kuat, mereka akan mengandalkan koneksinya karena ini menyangkut kebijakan yang merupakan rahasia dari organisasi mereka sendiri. Bagian lainnya, Freemasonry digambarkan sebagai organisasi yang memiliki niatan baik karena melindungi kebijakan – kebijakan kuno yang dapat mengubah dunia ( halaman 191 ). Hal menarik lainnya di dalam The Lost Symbol, Dan Brown belum juga “tobat” dari memberikan kontroversi kepada agama kristen, setelah sebelumnya dalam Da Vinci Code, Dan Brown menceritakan bahwa Jesus menikah dan memiliki keturunan, dalam The Lost Symbol, serangan terjadi di Al – Kitab yang disebutkan memiliki kebijakan – kebijakan kuno dan tertulis tersirat dalam Al – Kitab. Rasanya Dan Brown gagal dalam menciptakan sensasi dari The Lost Symbol yang dapat memancing kemarahan seperti Da Vinci Code, karena mungkin pembacanya yang beragama Kristen telah “sadar” kalau karya Dan Brown hanyalah fiksi belaka.

Novel yang bercover cetakan kertas dengan cap lilin yang robekannya berisi Gedung Capitol ini memiliki hal yang sangat berbeda dengan halnya novel – novel suspense pada umumnya, yaitu pengungkapan kebenaran yang lebih dalam. Hal ini dapat dilihat dalam bab – bab terakhir novel ini ketika membuka tabir sebenarnya kebijakan kuno yang menjadi fokus utama dari cerita dalam novel ini. Hal ini menjadi sangat unik karena perbedaannya dengan novelsuspense umumnya yaitu menceritakan misteri dan bagaimana konspirasi penjahat dijalankan. Namun, The Lost Symbol memberikan pemberatan di sisi penjelasan soal misteri kebijakan kuno ini, seolah ingin menasbiskan inilah ciri khas novel Dan Brown yaitu selalu memiliki misteri di dalam konspirasi, serta penjelasan seutuhnya misteri tersebut setelah konspirasi terkuak. Bab – bab terakhir, Dan Brown tidak berhenti untuk melakukan penjelasan tanpa terkesan memberikan ceramah, hal ini dapat dilihat misalnya pada penjelasan bahwa Tuhan adalah diri kita sendiri dengan penjelasan – penjelasan melalui dialog antara Peter Solomon dan Robert Langdon ( halaman 681 ). Pada halaman yang sama ( 681 ), Dan Brown menjelaskan Pluralisme dalam kebijakan – kebijakan kuno, dan seperti biasa dilakukan dengan cara – cara pembangunan dialog dua tokoh. Dapat terlihat, Dan Brown menyukai pembangunan penjelasan misteri dengan melakukan perbincangan dua orang, seperti dalam Da Vinci Code yaitu dialog antara Sir Teabing dengan Robert Langdon mengenai Holy Grail. Hal tersebut menjadi ciri khas Dan Brown.

Kesimpulannya, The Lost Symbol adalah novel yang penuh dengan hal – hal unik seperti yang dijelaskan diatas. Keunggulan novel ini terdiri dari; penuh dengan pengetahuan baru, karakter yang kuat, alur yang cepat, penggambaran cerita dengan gambar yang dapat memperkuat imajinasi, serta penceritaan Dan Brown tentang kebijakan kuno yang tidak terkesan berceramah. Novel ini sangat “memanjakan” penggemar fanatik misteri kuno dan teori konspirasi serta yang ingin mengetahui lebih dalam tentang peran organisasi kuno dalam kemajuan Amerika Serikat saat ini.

Nilai: 4 dari 5 untuk keseluruhan.

Posted in Thriller - Suspense - Mystery | Tagged , , , , , | Leave a comment