The Lost Symbol: Penelusuran Misteri Kebijakan Kuno Freemason

The lost symbol

Judul Buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Mizan Pustaka Utama ( Bentang Pustaka )
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Mei 2010
Tebal: 712 Halaman, 23,5 cm
ISBN: 978-979-1227-87-2 ( Hardcover )
Harga: Rp. 110.000

” Sebentar lagi kita akan menyaksikan renaisans tertinggi kita, setelah milenium kegelapan, kita akan melihat semua ilmu pengetahuan, pikiran, dan bahkan agama kita mengungkap kebenaran ( Dan Brown – The Lost Symbol ) “

Pernahkah kita menyadari kalau sebuah gedung terkenal di Amerika Serikat yaitu Gedung Capitol, dimana gedung tersebut adalah tempat berkumpulnya para senator dari seluruh Amerika Serikat ternyata menyimpan sebuah misteri yang berisi kebijakan – kebijakan kuno? atau, pernahkah kita mengetahui bahwa seluruh kota di Washington DC, Amerika Serikat ternyata dibangun dengan menggunakan pedoman – pedoman kebijakan kuno. Ketidaksadaran inilah yang kemudian digambarkan oleh Dan Brown melalui petualangan seorang profesor bernama Robert Langdon yang sekali lagi terjebak untuk memecahkan teka – teki kebijakan kuno yang menyimpan misteri sejak berdirinya Amerika Serikat hingga saat ini.

Sinopsis.

Robert Langdon kembali dalam petualangan penuh teka – teki, rahasa perkumpulan kuno, simbol – simbol keagamaan dan kekuasaan di masa lalu. Petualangan Robert Langdon kali ini bertempat di ibukota Amerika Serikat yaitu Washington DC. Professor dari Universitas Harvard ini mendapat undangan dari seorang sahabat lamanya yaitu Peter Solomon – seorang anggota mason – untuk memberikan ceramah di gedung tempat anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan para senator merumuskan undang – undang yaitu Gedung Capitol. Alih – alih memberikan ceramah, Robert Langdon harus berurusan dengan seorang psikopat yang menculik Peter Solomon dan memberikannya teka – teki untuk ditebus dengan nyawa sahabatnya tersebut. Disisi lain, adik dari Peter Solomon yaitu Katherine, sedang mempelajari dan meneliti sesuatu yang dapat mengubah dunia di Museum Smithsonian juga mendapat serangan dari penculik Peter Solomon untuk menguasai penemuan Katherine yang luar biasa yang dikatakan dapat mengubah dunia. Penculik Peter Solomon tidak main – main dengan nyawa Peter Solomon, ia memberikan sebuah tangan kanan Peter Solomon yang berisi teka – teki dan sebuah pesan bahwa satu – satunya orang yang dapat menyelamatkan Peter, hanyalah Robert Langdon sendiri.

Analisis

Hadir dengan terjemahan Indonesia yang lebih banyak 200 halaman lebih dari edisi pertamanya ( 712 halaman ), The Lost Symbol lebih “kaya” pengetahuan daripada dua buku sebelumnya. Hal ini terlihat dari hal – hal yang Dan Brown ceritakan dalam The Lost Symbol seperti; ilmu Noetic, Simbol kuno, Sejarah amerika serikat, arsitektur di Washington DC hingga persoalan ketuhanan yang berujung pada pluralisme. Dan Brown melakukan ekspansi pada isi novelnya dengan memberikan kajian – kajian baru selain arti simbol, meskipun simbol masih menjadi sajian utama novel kelima Dan Brown ini. Dan Brown menjawab kritikan pembacanya yang menginginkan Dan Brown menambahkan literalur lain selain simbol – simbol kuno dalam novelnya. Dan Brown sukses menjawab kritikan tersebut namun, dengan kekayaan pengetahuan baru selain simbol, penulis yang selalu dicap sebagai anti kristen ini, novel The Lost Symbol seperti “Jack of All Trades, Master of Nothing”. Tidak ada pembahasan mendalam soal suatu simbol seperti Dan Brown lakukan dalam Da Vinci Code ( Monalisa ) dan Angels & Demons (fire-earth-air-water). Sangat disayangkan, padahal itulah ciri khas utama semua novel Dan Brown yang terdapat Robert Langdon di dalamnya. Meskipun pembahasan akan simbol lebih sedikit daripada Da Vinci Code namun, sama seperti Da Vinci Code, pembahasan tentang simbol merata hingga berakhirnya cerita yang pasti memuaskan para pembaca setianya.

Kepintaran penulis yang sukses menjual novel Da Vinci Code sebanyak 250 juta eksemplar ini dapat terlihat dalam penggambaran detail tempat kejadian di dalam novel. Dan Brown, sukses menciptakan kegairahan membaca dengan tidak hanya menyebut nama tempat, tapi juga menjelaskan sejarah tempat tersebut, contohnya seperti; pada halaman 129 dimana Dan Brown menjelaskan asal mula nama ibukota Amerika Serikat yaitu Washington yang ternyata dulunya ingin dinamakan Roma. Kepintaran Dan Brown lainnya adalah detail dalam penggambaran lokasi dan isi dari lokasi tersebut, ” Atrium yang di dominasi delapan kolom doric dari granit tampak hijau itu tampak seperti makam hibrida dengan patung – patung marmer hitam, mangkuk – mangkuk lampu, salib – salib teutonic , medali – medali phoenix berkepala dua , dan tempat – tempat lilin berhias kepala Hermes ( The Lost Symbol, halaman 629 ).

Alur yang maju dan hanya sesekali melakukan alur mundur seperti penggambaran sejarah penculik Peter Solomon merupakan nilai tambah novel ini karena, sesuai dengan ciri novel Suspense lainnya yaitu; menciptakan ketegangan dan hanya sedikit menurunkan tensi dalam membaca. The Lost Symbol melalui alur yang cepat memaksa pembaca tidak beristirahat dalam berpikir karena teka – teki yang tidak ada habisnya, setiap lembaran adalah pembahasan simbol dan teka – teki baru dan situasi genting yang dihadapi Robert Langdon. Alur yang cepat khas novel suspense pada umumnya tidak membuat Dan Brown hanya berfokus pada perburuan penculik sahabatnya, namun juga menciptakan misteri – misteri baru, seperti misalnya ketika halaman 487 ketika arti teka – teki benda yang pecahkan Robert Langdon terpecahkan ternyata masih ada misteri lainnya dibalik itu semua. Pembaca novelnya “dipaksa” untuk tetap mengikuti alurnya hingga halaman terakhir untuk menguak semua misterinya.

Dan Brown yang menyukai anagram dan puzzle ketika masih muda, memasukan juga salah satu elemen terseru yang selalu disukai para penggemar bukunya yaitu gambar yang berasal dari zaman dahulu. Dalam The Lost Symbol, beberapa kali Dan Brown memasukan gambar enkripsi tulisan teka – tekasi seperti pada (halaman 286). Untuk memudahkan para pembacanya memahami “dunia” The Lost Symbol, Dan Brown juga memasukan peta – peta, seperti peta kota Washington yang berisi gedung – gedung yang dibangun sejak dahulu. penggambaran peta – peta ini juga membuat para pembaca novel The Lost Symbol ingin mengunjungi tempat – tempat misterius yang berada di Washington D.C karena detail penceritaan Dan Brown.

Banyak kritikus yang mempertanyakan benang merah yang dibangun oleh Dan Brown, hal ini disebabkan oleh kegagalan Dan Brown menciptakan benang merah yang kuat dari sekuel Angels & Demons ke Da Vinci Code, belajar dari hal tersebut, Dan Brown akhirnya menciptakan benang merah yang jelas antara novel Da Vinci Code dan The Lost Symbol yaitu pembahasan soal SangReal ( halaman. 285 ) yang merupakan pembahasan utama buku Da Vinci Code. Benang merah yang cukup mengagetkan adalah ketika Robert Langdon bertanya pada Sophie Neveu mengantai Sophie menuju “keluarganya” pada novel Da Vinci Code yaitu ” apakah Tuhan adalah manusia?” Robert Langdon akhirnya menemukan jawabannya di The Lost Symbol.

Penggambaran karakter yang kuat dan memiliki karisma adalah salah satu keunggulan dari The Lost Symbol. Dan Brown menjadikan peran antagonis dalam novel ini benar – benar luar biasa kuat, tidak hanya seperti Da Vinci Code yang hanya seorang pembunuh bayaran atau Angels & Demons yang seorang pastur. Dan Brown menaikan level penjahatnya dengan memiliki fisik dan kepintaran yang luar biasa, seperti gabungan dua penjahat dalam dua novel sebelumnya, bahkan menambahkan perilaku psikopat dalam penjahat The Lost Symbol ini dan disisi lain “memanusiawikan” penjahatnya seperti pada (halaman 303). Penggambaran karakter lainnya juga tidak terlupakan oleh penulis berencana menerbitkan 12 edisi seri Robert Langdon ini; seperti Inoue Sato, Dean Galloway bahkan Peter Salomon yang mereka semua memiliki maksud dan interest masing – masing dalam perburuan kebijakan kuno ini. Tidak terlupa Dan Brown memasukan pemanis dalam novelnya yaitu tokoh Katherine Solomon sebagai partner Robert Langdon dalam mengungkap misteri penculikan sahabatnya. Salah satu hal unik dalam novel ini adalah Dan Brown berhasil memanusia-superkan karakter Robert Langdon yang berhasil memecahkan teka – teki dalam keadaan darurat (halaman: 529).

Dan Brown yang mengawali karir sebagai musikus ini mengubah total pandangan masyarakat umum kepada organisasi Freemasonry. Freemasonry yang selalu digambarkan sebagai organisasi dibalik semua konspirasi di dunia ini, oleh Dan Brown digambarkan sebagai organisasi yang sebenarnya tidak sekuat yang dibayangkan oleh masyarakat umumnya. Hal ini dapat terlihat ketika Robert Langdon menerima bantuan “hanya” dari seorang Dean Galloway yang merupakan Direktur museum Smithsonian, seharusnya kalau Freemason itu kuat, mereka akan mengandalkan koneksinya karena ini menyangkut kebijakan yang merupakan rahasia dari organisasi mereka sendiri. Bagian lainnya, Freemasonry digambarkan sebagai organisasi yang memiliki niatan baik karena melindungi kebijakan – kebijakan kuno yang dapat mengubah dunia ( halaman 191 ). Hal menarik lainnya di dalam The Lost Symbol, Dan Brown belum juga “tobat” dari memberikan kontroversi kepada agama kristen, setelah sebelumnya dalam Da Vinci Code, Dan Brown menceritakan bahwa Jesus menikah dan memiliki keturunan, dalam The Lost Symbol, serangan terjadi di Al – Kitab yang disebutkan memiliki kebijakan – kebijakan kuno dan tertulis tersirat dalam Al – Kitab. Rasanya Dan Brown gagal dalam menciptakan sensasi dari The Lost Symbol yang dapat memancing kemarahan seperti Da Vinci Code, karena mungkin pembacanya yang beragama Kristen telah “sadar” kalau karya Dan Brown hanyalah fiksi belaka.

Novel yang bercover cetakan kertas dengan cap lilin yang robekannya berisi Gedung Capitol ini memiliki hal yang sangat berbeda dengan halnya novel – novel suspense pada umumnya, yaitu pengungkapan kebenaran yang lebih dalam. Hal ini dapat dilihat dalam bab – bab terakhir novel ini ketika membuka tabir sebenarnya kebijakan kuno yang menjadi fokus utama dari cerita dalam novel ini. Hal ini menjadi sangat unik karena perbedaannya dengan novelsuspense umumnya yaitu menceritakan misteri dan bagaimana konspirasi penjahat dijalankan. Namun, The Lost Symbol memberikan pemberatan di sisi penjelasan soal misteri kebijakan kuno ini, seolah ingin menasbiskan inilah ciri khas novel Dan Brown yaitu selalu memiliki misteri di dalam konspirasi, serta penjelasan seutuhnya misteri tersebut setelah konspirasi terkuak. Bab – bab terakhir, Dan Brown tidak berhenti untuk melakukan penjelasan tanpa terkesan memberikan ceramah, hal ini dapat dilihat misalnya pada penjelasan bahwa Tuhan adalah diri kita sendiri dengan penjelasan – penjelasan melalui dialog antara Peter Solomon dan Robert Langdon ( halaman 681 ). Pada halaman yang sama ( 681 ), Dan Brown menjelaskan Pluralisme dalam kebijakan – kebijakan kuno, dan seperti biasa dilakukan dengan cara – cara pembangunan dialog dua tokoh. Dapat terlihat, Dan Brown menyukai pembangunan penjelasan misteri dengan melakukan perbincangan dua orang, seperti dalam Da Vinci Code yaitu dialog antara Sir Teabing dengan Robert Langdon mengenai Holy Grail. Hal tersebut menjadi ciri khas Dan Brown.

Kesimpulannya, The Lost Symbol adalah novel yang penuh dengan hal – hal unik seperti yang dijelaskan diatas. Keunggulan novel ini terdiri dari; penuh dengan pengetahuan baru, karakter yang kuat, alur yang cepat, penggambaran cerita dengan gambar yang dapat memperkuat imajinasi, serta penceritaan Dan Brown tentang kebijakan kuno yang tidak terkesan berceramah. Novel ini sangat “memanjakan” penggemar fanatik misteri kuno dan teori konspirasi serta yang ingin mengetahui lebih dalam tentang peran organisasi kuno dalam kemajuan Amerika Serikat saat ini.

Nilai: 4 dari 5 untuk keseluruhan.

This entry was posted in Thriller - Suspense - Mystery and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s