Pride and Prejudice: Kisah percintaan ditengah konflik kelas menengah Inggris pada abad 19.

Pride & Prejudice

Judul Buku: Pride and Prejudice
Penulis: Jane Austen
Penerbit: PT. Mizan Pustaka ( Qanita )
Tahun Terbit: Cetakan Keenam, Mei 2012
Tebal: 588 Halaman, 20,5 cm
ISBN: 978-602-8579-54-4 ( Softcover )
Harga: Rp. 59.000

“Sejak awal, peringaimu, keangkuhanmu, sikap acuh tak acuhmu, jadi landasan kebencianku padamu. Belum sebulan mengenalmu, aku sudah tahu bahwa kau adalah pria yang takkan mungkin kunikahi” ( Jane Austen – Pride and Prejudice ).

Cinta adalah alasan mengapa manusia dibuang ke bumi, karena Adam menuruti keinginan Hawa memakan buah terlarang. Cinta jugalah yang membuat seseorang rela mati demi orang yang ia cintai seperti kisah Romeo dan Juliet serta Cleopatra – Antonius. Cinta bahkan mengubah seseorang menjadi orang yang berbeda seperti dalam Sweeney Todd: The Barber in The Fleet Street, yang berubah menjadi psikopat demi menyelamatkan nyawa anaknya, serta Bella Swan dalam Twilight Saga yang rela menjadi Vampire demi kekasih tercintanya.

Persamaan dari semua kisah – kisah cinta di atas adalah cinta merupakan sebuah tragedi. Tragedi adalah tema favorit percintaan, apabila mengambil sudut pandang dari Inggris. Negara inilah yang memiliki kisah percintaan penuh pelik dan tragedi yang sangat banyak bahkan menjadi tema umum. Cerita cinta yang berasal dari Inggris yang berujung tragedi yaitu: Hamlet, Romeo – Juliet dan Sweeney Todd. Roman – roman klasik inggris selalu bercerita tentang hal – hal yang tragis.

Tema tragis yang menjadi ramuan utama cerita – cerita inggris, tidak digunakan secara utuh oleh Jane Austen. Jane Austen sangat berbeda dengan kebanyakan cerita – cerita yang berasal dari Inggris ini. Jane Austen menawarkan percintaan ditengah konflik masyarakat kelas menengah. Perbedaan inilah yang kemudian membuat Pride dan Prejudice menjadi cerita cinta yang tidak biasa karena Jane Austen secara mengejutkan keluar dari pakem cerita – cerita Inggris yang biasanya penuh tragedi. Hal inilah yang kemudian menjadikan Pride and Prejudice menjadi bahan penjelasan yang menarik untuk digali lebih mendalam.

Sinopsis 

Tokoh utama dalam kisah Pride and Prejudice ( berikutnya akan disebut PaP) adalah Elizabeth Bennet yang tinggal di Longbourn. Elizabeth Bennet memiliki empat saudara yaitu Jane, Mary Catherine ( Kitty ) dan Lidya. Sebagai anak kedua dari keluarga Bennet, Elizabeth memiliki peringai yang tidak seperti wanita pada umumnya pada saat itu, ia pemberontak dan memiliki perkataan yang menyakitkan. Elizabeth memiliki ayah dan ibu yang memiliki kepentingan masing – masing, sang ayah tidak memiliki apapun untuk diwarisi untuk kelima anaknya karena kakek Elizabeth memberikan semua warisan kepada sepupu ayah Elizabeth yaitu Mr. Collins. Berdasarkan hal tersebut, sang ibu menginginkan semua anak – anaknya untuk menikah dengan pria kaya agar masa depan anak – anaknya terjamin.

Kedatangan Mr Bingley yang merupakan pria kaya ke Longbourn, menarik perhatian ayah Elizabeth dan kemudian mengundangnya ke rumahnya. Setelah kedua kali datang ke Loungbourn, diadakanlah acara pesta dansa yang kemudian membuat Mr. Bingley jatuh cinta kepada kakak Elizabeth yaitu Jane. Di acara pesta dansa inilah, Elizabeth bertemu dengan Mr. Darcy, pria yang dianggap menyebalkan olehnya. Mr. Darcy mengagumi Elizabeth pada saat itu. Namun, Saat itu Elizabeth menampiknya mentah – mentah karena Mr. Darcy menghinanya di acara tersebut. Meskipun membenci Mr. Darcy namun perlahan – lahan Elizabeth tertarik dengan segala hal yang dimiliki Mr. Darcy. Dengan segala kebencian dan saling ketidaktertarikan, akhirnya keduanya saling memahami bahwa mereka sebenarnya saling mencintai.

Analisa

Tahun ini, PaP berusia 200 tahun sejak pertama kali dipublikasikan pada tahun 1813. Sebuah prestasi luar biasa untuk sebuah karya sastra. Prestasi lainnya adalah PaP telah menjadi bacaan yang paling dicintai di dunia ( berdasarkan BBC tahun 2003 ). Kesuksesan novel ini juga membawa kesuksesan pada film-nya yang dibintangi oleh Keira Knightley yang untung besar di Box Office Amerika Serikat. Luar biasa bagaimana pengaruh Novel PaP di dunia. Meskipun filmnya sukses besar namun perbedaan mencolok dari Novel dan film PaP adalah film lebih menonjolkan percintaan antara Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet, sementara novelnya lebih meluas daripada hal tersebut. Elizabeth dan Mr. Darcy hanyalah menjadi sudut pandang untuk masyarakat Inggris pada abad 19. Bisa dikatakan Elizabeth dan Mr. Darcy menjadi penonton dan pengamat hal – hal yang terjadi saat itu. Disinilah kepintaran Jane Austen ( berikutnya disebut JA) dalam meramu novel yang menceritakan sosiologi masyarakat pada abad 19.

Qanita sebagai penerjemah novel PaP terlihat kaku dalam menerjemahkan PaP, karena bahasa yang digunakan sangatstraight dengan apa yang ditulis JA dalam versi bahasa Inggris. Seperti menerjemahkan langsung tapi meng-edit dan mensinergikan dalam bahasa Indonesia yang lebih enak untuk dibaca. Qanita sepertinya menginginkan bahwa PaP tetaplah menjadi sastra Inggris yang original seperti JA buat tanpa peng-edit-an yang berlebih. Namun tetaplah ini sebuah blunder karena membuat PaP tidak menjadi mudah untuk dibaca karena memiliki penulisan yang benar – benar langsung translate dari bahasa JA ke dalam bahasa Indonesia. ada dua hal yang menganggu dalam persoalan originalitas yang dipertahankan Qanita ini yaitu:

1. Originalitas JA yang dipertahankan Qanita yang membuat rumit adalah penggunaan Mr, Miss, Mrs sangat – sangat menganggu. Qanita sadar bahwa yang terkenal dalam kisah PaP adalah Mr. Darcy bukan Fitzwilliam Darcy, hal ini masih bisa dimaklumi. Namun tetap mempertahankan nama dengan ungkapan diawali Mrs, Mr, Miss sangat – sangat menganggu, seperti Miss Bingley, kenapa tidak disebut sebagai Caroline saja dalam penulisan novel terjemahan ini. Gangguan ini menyebabkan kebingungan karena Keluarga di dalam dalam PaP sangat banyak dan penyebutan nama keluarga dan tambahan Mr, Mrs, Miss tidak membuat novel ini menjadi mudah dimengerti. Penyebutan nama depan akan menjadi lebih enak di nikmati apabila misalkan Lidya ( untuk menyebut adik Elizabeth daripada disebut Miss Bennet seperti Qanita tulis).

2. Originalitas tidak hanya pada penggunaan nama karakter bahkan kepada bab yang ada dalam novel terjemahan ini, misalkan pada bab 13 ( hal. 105 ) yang terputus dan bersambung pada bab 14. dua bab ini menceritakan tentang kedatangan Mr. Collins ke rumah Elizabeth dan makan malam bersama. Dua bab yang seharusnya bisa dijadikan hanya di dalam bab 13 karena temanya dan ceritanya masih berhubungan namun dipecah menjadi dua bab. sangat menganggu. Kritik ini juga ditujukan untuk JA karena kurang teliti dalam dua bab ini.

JA yang dilahirkan pada tahun 1775 dan kemudian wafat 41 tahun setelah itu, memberikan gambaran setiap karakter dengan sangat bagus dalam PaP terutama untuk karakter – karakter utama karena, JA tidak secara langsung menulis sifat karakter dalam novelnya, melainkan dengan kelakuan karakter tersebut kepada karakter lainnya. Misalkan dalam penggambaran Karakter Elizabeth, JA tidak hanya memberikan gambaran karakter melalui satu paragraf saja namun juga dengan paragraf – paragraf setelah itu. Elizabeth digambarkan pemberontak dan tidak tahu sopan santun karena menolak ajakan dansa Mr. Darcy ( hal 42 ). Elizabeth yang suka berkata menyakitkan dan menghina Miss Bingley ( hal 88 ). Karakter lainnya yang digambarkan dengan sama baiknya oleh JA adalah karakter Mr. Darcy yang digambarkan sebagai orang yang hatinya keras namun baik hati oleh sahabatnya Mr. Bingley ( hal. 78 ), gambaran sifat Mr. Darcy yang dikatakan sebagai seseorang yang angkuh oleh Mr. Wickham (hal. 128 ). Gambaran – gambaran sifat dua karakter utama ini yang membuat kisah PaP menarik karena Elizabeth dan Mr. Darcy bersifat sama – sama negatif. Dua sifat negatif yang bertemu kemudian berubah menjadi cinta. Romantisme yang dibangun melalui sifat inilah yang membuat PaP menjadi novel romance yang bagus.

Plot utama PaP adalah tentang Mr. Darcy dan Elizabeth yang terjalin dalam hubungan mereka berdua yang naik turun yang digambarkan maju kedepan. PaP menjadi menarik apabila mengambil sudut utama penceritaan melalui karakter Elizabeth karena Elizabeth-lah yang menjadi kunci pemahaman romantisme PaP.

Hal ini dapat terlihat bagaimana Elizabeth dikejar cintanya oleh Mr. Collins ( hal. 164 ) hingga ia menolak lamaran Mr. Collins ( hal. 180 ) karena Elizabeth dengan harga dirinya ( pride ) menolak dijadikan alat balas budi. Elizabeth mengagumi banyak pria, hal ini dapat terlihat dari dekatnya ia dengan Wickham, Mr. Collins dan Mr. Darcy ( bab 32 – 33). Meskipun Elizabeth membenci Mr. Darcy namun dalam PaP mengambarkan Mr. Darcy memberikan pengakuan cintanya ( hal 290 ), namun Elizabeth yang masih terpengaruh karena perkataan Mr. Wickham ( hal 342 ) menimbulkan konflik keduanya. Kisah cinta Elizabeth dan Mr. Darcy tidak habis disitu, JA dengan cerdasnya membuat peran Mr. Darcy menjadi sangat vital dalam hidup Elizabeth ketika ia menolong Lidya dan Wickham yang melarikan diri, yang membuat Elizabeth luluh terhadapnya ( hal. 466 ). Tidak berhenti sampai disana ketika semuanya terlihat normal JA memberikan lagi konflik dalam PaP dengan perkataan Caroline yang mengatakan bahwa Elizabeth tidak setara derajatnya dengan Mr. Darcy dan Elizabeth tidak pantas dengan Mr. Darcy ( hal. 535 ). Hambatan cinta juga dirasakan oleh Elizabeth yang ingin menikah dengan Mr. Darcy dengan berusaha untuk membujuk sang ayah karena sang ayah tidak ingin kehilangan Elizabeth sebagai anak kesayangan ( hal. 567 ). Semua konflik dan hambatan cinta Elizabeth dan Mr. Darcy adalah romantisme yang ada dalam PaP yang digambarkan dengan penuh lika – liku dan konflik namun PaP memiliki alur yang sangat lambat karena JA terlalu banyak menggambarkan Elizabeth dan dunia di sekelilingnya tapi bisa dimaklumi karena itulah sisi menarik dari PaP itu sendiri. Romantisme yang dibangun oleh JA sayangnya tidak begitu terasa ketika saya melihat layout surat kakak Elizabeth yaitu Jane kepada Elizabeth ( hal. 228 ). layout nya sangat tidak mengenakan untuk dilihat sebagai surat, mungkin sebaiknya ditambahkan dengan gambar di samping – samping surat tersebut. Sekali lagi, Qanita kembali terjebak dalam originalitas sebuah karya sastra hingga layout-nya juga sama seperti yang JA buat dalam PaP.

interaksi antar karakter dalam Pride and Prejudice

JA yang meninggal karena sakit TBC ( tuberculosis ) ini membuat PaP dengan kisah percintaan dibawah keadaan sosilogi masyarakat pada saat itu. hal ini dapat terlihat dalam dua kata yang terdapat dalam judulnya sendiri Pride danPrejudice ( harga diri dan Prasangka ). Pride dalam hal ini adalah dimana karakter Elizabeth yang keras hati dan tidak ingin mengalah dengan keadaan dapat terlihat dalam bagian ketika adu mulut antara Elizabeth dan adik Mr. Bingley yaitu Caroline ( hal. 59 – 62 ).

Disaat penggambaran plot inilah, PaP menunjukan bahwa ini novel yang berkualitas seperti penjabaran plot di atas. hal ini dapat terlihat dalam kata Kata pride dalam novel PaP. Hal tersebut adalah

1. Ketika harga diri mamanya Elizabeth ketika Mr. Darcy berkata Longbourn adalah sebuah “desa” ( hal. 68 ).
2. Kaburnya adik bungsu Elizabeth yaitu Lidya dengan Wickham yang berarti mencoreng nama baik keluarga Bennet (hal. 406 ).
3. Konflik harta warisan antara Mr. Collins dan papanya Elizabeth ( hal 100 ).
4. Adanya perang harga diri antara tentara dan para orang kaya saat itu ( hal 115 ).
5. Perang kekayaan antar tiap orang – orang kaya saat itu. harta berarti kenaikan harga diri. ( hal. 119 ).

Setelah kata pride, berikutnya adalah kata prejudice yang berarti prasangka. hal ini dapat terlihat dengan perebutan harta warisan antara Wickham dan Mr. Darcy dan gambaran Wickham akan Mr. Darcy yang membuat Elizabeth merasakan kalau Mr. Darcy menyakiti hati Wickham karena mengambil seluruh hartanya padahal Wickham adalah anak kesayangan ayah Mr. Darcy ( hal. 124 ).

Kondisi masyarakat Inggris yang digambarkan dalam PaP menimbulkan sebuah analisa yang harus ditelusuri lebih dalam yaitu kemungkinan JA mempengaruhi tulisan yang terkenal pada masa setelah PaP terbit yaitu Anna Karenina-nya, Leo Tolstoy yang banyak membahas soal kondisi politik dan kondisi masyarakat. JA selangkah lebih cepat saat itu daripada Tolstoy. Kondisi masyarakat yang digambarkan JA adalah masyarakat yang materialistis, yang segalanya diukur oleh uang. Hal ini dapat terlihat bagaimana gadis – gadis Longbourn berusaha untuk menarik perhatian pria – pria kaya yang datang ke tempat mereka, hal ini digambarkan dengan kakak Elizabeth yang berusaha menarik perhatian Mr. Bingley ( hal. 34 dan 111 ). Hal kedua yang harus dicermati adalah bagaimana gadis – gadis pada saat itu sangat tergila – gila dengan tentara, tentara digambarkan sama harkatnya dengan bangsawan ( hal 81 ). Hal ini dapat terlihat dengan usaha dua adik Elizabeth yaitu Lidya dan Kitty yang berusaha menarik perhatian para tentara melalui pesonanya ( hal. 113 ).

PaP adalah novel tentang Feminisme. Kelakuan wanita keras dan tidak mau diatur yang digambarkan melalui Elizabeth adalah Feminisme yang secara tidak langsung ditulis oleh JA. JA dengan luar biasa memasukan isu yang krusial ini dan menggambarkan dengan apik melalui kondisi – kondisi yang ada seperti pengambaran review di atas yaitu perempuan yang ketergantungan oleh laki – laki karenanya memilih untuk menikah dengan orang kaya, Perempuan yang seenaknya dijadikan alat balas budi dan Elizabeth menentang itu. Perempuan yang digambarkan hanya bisa pasrah dan menunggu laki – laki datang. Isu Feminisme adalah hal krusial pada abad 18 yaitu ketika kemerdekaan Amerika dan Revolusi Prancis dimana keduanya menuntut persamaan dan kesetaraan hak. JA datang membawa isu ini 50 tahun setelah kemerdekaan Amerika dan Revolusi Prancis. Disinilah salah satu kehebatan novel ini karena berhasil memasukan banyak unsur yaitu sosiologi masyarakat, Politik Feminisme dan Romantisme sastra. Pesan politik Feminisme inilah yang membuat JA berbeda sangat jauh dengan novel – novel inggris kebanyakan yang menceritakan Tragedi dalam percintaan. Secara tidak langsung JA mensimbolkan Elizabeth Benneth sebagai simbol Feminisme dalam novel ini.

Kesimpulannya, PaP memiliki kekuatan yang bagus untuk sebuah buku sastra klasik yaitu pengambaran karakter dan plot yang bagus, penceritaan kondisi sosiologis dan politik yang menarik pada saat itu, hingga pesan yang ingin disampaikan secara tersirat melalui sebuah buku yaitu Feminisme. Buku PaP sangat layak untuk dibaca dan dipelajari sebagai sebuah novel yang berhasil menciptakan romantisme dan kondisi sosiologis masyarakatnya pada abad 19. Novel ini sangat direkomendasikan tidak hanya untuk orang – orang yang ingin mempelajari sastra namun juga yang tertarik dengan sejarah dan sosiologi.

Nilai: 4 dari 5 secara keseluruhan.

This entry was posted in Romance and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s