Life of Pi: Buku Panduan Selamat di Samudra Pasifik Dengan Sedikit Tuhan

“Life of Pi: Buku Panduan Selamat di Samudra Pasifik Dengan Sedikit Tuhan”

Judul Buku: Life of Pi
Penulis: Yann Martel
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan Keenam, Desember 2012
Tebal: 448 Halaman, 20 cm
ISBN: 978-979-22-8900-8 ( Softcover )
Harga: Rp. 55.000

Kisah ini akan membuat orang percaya akan Tuhan – Life of Pi”

Manusia selalu terpukau dengan keajaiban. Keajaiban membuat manusia percaya bahwa ada suatu kemustahilan pada setiap kejadian. Mungkin karena itulah acara sulap begitu digemari diseluruh dunia, membayangkan kelinci keluar dari topi adalah kemustahilan. Begitulah juga dengan Agama, Manusia dipaksa mempercayai dengan dongeng-dongengmembelah lautan ( Musa / Moses ), tidak musnah dibakar ( Ibrahim ), Inkarnasi Tuhan menjadi makhluk hidup ( Dewa Wisnu ). Keajaiban – keajaiban tersebut membuat manusia dipaksa untuk mempercayai bahwa ada kekuatan melebihi kemampuan manusia yaitu apa yang disebut sebagai Tuhan.

Cukupkah dengan terpukau dengan keajaiban yang Tuhan ciptakan melalui nabi – nabinya tersebut, membuat manusia percaya kepada Tuhan? TIDAK! Tuhan memberikan rasa takut pada manusia. Rasa takut inilah yang kemudiandieksploitasi besar – besar daripada keajaiban – keajaibanNYA. Rasa takut gagal, rasa takut disiksa di neraka, rasa takut miskin. Rasa takut tersebutlah yang kemudian menjadi titik terendah hingga manusia kemudian harus berdoa. Melalui rasa takut, manusia percaya pada Tuhan. Rasa takut inilah yang digambarkan Yann Martel dalam bukunya Life of Pi yang memenangkan penghargaan Man Booker Prize pada tahun 2002.

Sinopsis 

Life of Pi adalah tentang seseorang bernama Piscine Molitor Patel yang sering disingkat menjadi Pi, yang tinggal di Pondicherry, India. Pi adalah keliling lingkaran dalam bilangan matematika (22/7, 3.14) begitu ia menyebut namanya. Pi dibesarkan oleh keluarga India yang sangat modern, yang jauh berbeda dengan India terdahulu yang penuh hal – hal konservatif. Kedua orang tua Pi memiliki harta yang cukup besar yaitu sebuah kebun binatang di Pondicherry, India. Pi memiliki seorang kakak yang berbeda jauh dengannya karena memiliki kegemaran yang berbeda namun selalu membelanya bernama Ravi. Di masa remaja, Pi mendalami ilmu spiritualitas, Pi mendalami tiga agama sekaligus yaitu Islam, Hindu dan Kristen. Pi merasa ketiga agama tersebut membuatnya bertemu dengan Tuhan. Hingga pada akhirnya datanglah pertentangan antara ilmu spiritualitas Pi dengan kedua orang tuanya. karena Pi harus memilih salah satu diantara 3 agama tersebut. Dan diakhiri dengan mengalahnya kedua orang tua Pi kepada sikap Pi.

Pada tahun 1970an, muncul gejolak antara India – Pakistan yang membuat keluarga Pi menjual seluruh lahan kebun binatangnya kepada pemerintah. Keluarga Pi sepakat untuk pindah ke Kanada dan memulai kehidupan baru disana dengan cara menjual seluruh hewan – hewannya kepada kebun binatang Kanada. Pi dan keluarga berangkat pada 21 Juni 1977 menggunakan kapal Tsimtsum yang berasal dari Jepang menuju Kanada. Malangnya, Kapal Tsimtsum hancur terhantam kekejaman Samudra Pasifik. Pi adalah satu – satunya korban selamat dari bencana tersebut, keluarga Pi, awak kapal dan seluruh muatan dalam Kapal Tsimtsum habis terbenam. Berbekal sekoci dan berbagai survival kit, Pi berusaha untuk bertahan hidup. Namun, Pi tidak sendiri karena ada seekor Harimau Bengal India berumur 3 tahun bernama Richard Parker berada bersamanya di sekoci penyelamat tersebut. Pi hanya memiliki dua ketakutan; ketakutan mati akibat kejamnya Samudra Pasifik atau mati dimakan hidup – hidup oleh Richard Parker. Disaat semua rasa takut menyelimuti Pi, Tuhan akhirnya hadir dalam hidup seorang Pi.

Analisis.

Membaca Life of Pi setelah menonton filmnya ternyata mengurangi kenikmatan membacanya. Pertama, Hal ini disebabkan popularitas buku ini menanjak sejak di filmkan oleh sutradara peraih 2 Oscar yaitu Ang Lee yang membuat penulis sangat berhasrat untuk membaca Life of Pi, kedua, Life of Pi memiliki perbedaan signifikan dengan filmnya yaitu tentang fokus dalam masing – masing media ( Buku dan Film ). Fokus dari Life of Pi buatan Martel adalah tentang Filosofi ketuhanan dan bertahan hidup di lautan dan fokus dari Ang Lee adalah menitikberatkan pada visual effectsehingga Life of Pi sangat indah dan memanjakan mata. Hal ini membuat Ang Lee diganjar Best Visual Effect dan Best Director serta Best Cinematography pada Oscar Award 2013. Penulis menyukai special effect pada Richard Parker karena dapat dibayangkan sulitnya menaruh harimau betulan tanpa membuatnya animasi yang bagus di atas kapal. Hingga Ang Lee harus memakai Visual Effect untuk peran Richard Parker. Karena itu Ang Lee sukses menggambarkan apa yang digambarkan Martel dalam bukunya secara benar.

Life of Pi yang mendapat tuduhan plagiat pada tahun 2002 dari penulis Brazil berjudul Maxs and Cat karena dianggap memiliki kemiripan ini karena sama – sama berkisah tentang seseorang yang terdampar di lautan ini menitik beratkan pada dunia kebun binatang pada bagian – bagian awalnya. Martel sepertinya menyukai perumpamaan binatang dalam filosofi hidup di buku Life of Pi seperti pada halaman 41, dimana Martel menyebutkan kebun binatang sebagai rumah yang nyaman dan alam liar sebagai tempat terasing. argumentasi Martel ini berasal dari kebun binatang yang selalu merawat, menjaga hewan dan memberikan hewan – hewan makanan yang bagus, benar – benar memanjakan binatang – binatang tersebut. Berbeda dengan alam liar yang memaksa hewan untuk bertahan hidup sendiri, melawan predator dan mengambil sendiri makanan yang ada. filosofi “Home sweet home ( Tiada rumah yang indah selain rumah sendiri )”inilah yang tonjolkan Martel dalam Life of Pi.

Kebun binatang yang digambarkan dari filosofi “Home Sweet Home” ini bukanlah tanpa bahaya dan Home tidak selalu menjadi tempat berlindung, Home selalu dirongrong oleh bahaya dari luar. Martel menceritakan pada halaman 57melalui sejarah kebun binatang yaitu Kebun binatang Pi pernah dijadikan tempat berburu rusa oleh orang Hindu karena seperti halnya masyarakat Hindu dimana rusa adalah jelmaan Rahwana yang jahat. bahaya – bahaya lainnya adalah manusia yang suka melempar batu kepada binatang dan memberikan makanan kepada hewan hingga hewan tersebut sakit. Disinilah nilai plus Martel yang cerdas mengelaborasi filosofi dunia dengan kebun binatang. Berbeda dengan filmnya yang membuat kebun binatang hanya “asal lewat”, tidak begitu banyak diceritakan padahal hal ini sangat menarik.

Life of Pi yang dipecah menjadi 3 bagian ini, mengawali bagian awalnya dengan kehidupan Pi di India, menurut penulis inilah bagian terbaik dari buku ini. Membaca bagian pertama Pi, selain tentang dunia kebun binatang di atas adalah tentang sifat manusia yang diibaratkan dengan binatang. Pada halaman 66-67, ayah Pi menjelaskan bahwa binatang sekecil apapun mampu menyakiti, seperti burung – burung kecil yang mampu memotong tangan seperti pisau bertemu mentega, dan hewan yang paling berbahaya di kebun binatang adalah gajah yang sering menginjak pengunjung karena nalurinya. Sifat manusia yang ingin digambarkan pada bagian ini adalah binatang – binatang yang lucu bahkan sanggup menjadi predator yang mematikan, juga itulah manusia yang selalu menganggap dunia ini baik, hingga pada saatnya dunia kemudian menjadi kejam hingga manusia membencinya dan melupakan bahwa dunia pada awalnya bersifat baik.

Salah satu bagian favorit penulis adalah tentang Pi yang menjelaskan tentang singa. Hal ini tidak begitu dibahas dalam filmnya namun justru inilah kunci bagaimana menenangkan Richard Parker di lautan nanti. Ang Lee melupakan kunci penting ini di filmnya. Tentang Singa berada pada halaman 76 – 77, dimana kunci menaklukan singa adalah dengan menunjukan kepada singa tersebut bahwa kitalah pemimpin dari singa tersebut karena apabila singa merasakan bahwa dia lebih hebat daripada kita, maka fatal akibatnya bagi kita. Seperti seorang pawang singa di sirkus – sirkus yang mampu membuat singa yang buas melompati lingkaran api, disanalah peran penting seorang pawang. membuat si pawang menjadi pemimpin bagi singa dan memaksa singa mematuhi perintahnya.

Bagian terpenting tentang Tuhan terletak bukan di bagian kedua ketika Pi bertahan hidup di lautan namun justru berada di bagian pertama ketika Pi menganut tiga agama sekaligus yaitu Hindu, Islam dan Kristen. Bagian ini tidak diperdalam oleh Martel dan juga Ang Lee, mungkin karena terlalu kontroversi. Martel terlalu sibuk dengan strategi bertahan hidup di lautan dan Ang Lee terlalu sibuk dengan visual graphic hingga melupakan bagian terbaik Life of Pi yaitu tentang Tuhan. Lucunya, Presiden Obama juga merekomendasikan Life of Pi berdasarkan visual graphic-nya bukan tentang bagian terbaik yaitu tentang Tuhan.

Penjelasan tentang agama dalam Life of Pi merupakan kunci utama dalam buku ini, Pi menemukan Tuhan. hubungan ketiga agama ini dijelaskan melalui kehebatan masing – masing agama. Pada halaman 80 – 84, Pi dikenalkan pada ajaran Hindu melalui bibinya yang mengajarkan bagaimana ritual hindu dilakukan dan kemudian Pi menjelaskan bahwa Agama Hindu bertemu Tuhan melalui indera – indera yang ada dalam diri manusia. Pada halaman 90, dimulai ketika Pi bertemu dengan pastor yang mengajarkan tentang kasih dalam Agama Kristendan pengorbanan Yesus kepada umatnya dengan cara mengorbankan diri di tiang salib. juga pada halaman 97, dengan sebuah kesederhanaan kehidupan Mr. Kumar dan ketika sholat, Pi merasa dekat dengan Tuhan melalui ajaran Agama Islam. Pencarian Tuhan inilah yang benar – benar membuat Life of Pi menjadi novel yang bagus pada bagian ini.

Martel tidak membiarkan pencarian Tuhan Pi berjalan mulus, Martel menyisipkan kelemahan – kelemahan agama Hindu, Kristen dan Islam melalui pertengkaran antara Pandita, Pastor dan Imam. Mereka berjuang memperebutkan hati Pi untuk memilih salah satu dari tiga agama itu. Kelemahan tersebut dijabarkan dalam kalimat – kalimat seperti pada halaman 110: Seperti Kristen yang dibilang kanibal karena memakan babi dan menyembah patung, Islam yang dibilang memiliki banyak istri dan Hindu yang dibilang menyembah boneka yang didandani serta memperbudak manusia. Semua pertentangan ini diakhiri dengan sebuah kalimat yang sangat moderat, kalau tidak mau dikatakan introduction to Agnostic oleh Pi, yaitu:

” kata Gandhi semua agama baik dan aku hanya ingin mengasihi Tuhan ” Life of Pi – halaman 112

Bagian pertentangan antar agama dari Life of Pi adalah yang paling berkesan bagi penulis, sayangnya Martel hanya menjelaskan dalam 4 lembar. bahkan bagian ini tidak ada di filmnya. Sayang sekali padahal Life of Pi memiliki potensi menjadi lebih baik dan fokus akan tema yang diangkat apabila hal ini dieksplorasi lebih mendalam, daripada tentang cara selamat di lautan yang habis – habisan dibahas dibagian kedua.

Sampailah di bagian kedua dalam buku Life of Pi yang disebut sebagai Samudra Pasifik. Menurut penulis, bagian ini adalah yang paling tidak menarik dari Life of Pi meskipun banyak orang memuji bagian ini sebagai bagian paling dramatis dalam film dan bukunya. Bagian ini adalah ketika Kapal Tsimtsum hancur dan Pi harus berdua di Samudra Pasifik dengan Richard Parker. Life of Pi yang memiliki alur maju ini, setelah menceritakan kehidupan Pi lalu bertahan hidup di lautan, menceritakan bahwa bagian kedua buku ini bercerita tentang bagaimana Pi bertahan hidup di lautan. Martel melakukan blunder besar di sini karena ia tidak memasukan unsur – unsur yang membuat novelnya lebih dramatis, mungkin Martel bisa memasukan unsur ketika Pi mengingat keluarganya dan kasih sayang orang tuanya. Martel malah seperti seorang penulis travelling book yang menjelaskan cara bertahan hidup di lautan. kesalahan yang diperbaiki dengan lebih baik oleh Ang Lee di filmnya karena memasukan unsur – unsur dramatis seperti catatan harian Pi yang berisi life guide yang terbang tertiup angin, membuat Pi bertahan tanpa life guide-nya dan pelukan dengan Richard Parker yang sungguh membuat haru. meskipun begitu, tetap saja kurang unsur dramatis yang digali di filmnya juga

Apa yang kita pelajari dari bagian kedua dari buku ketiga Yann Martel ini? tentu saja kita mempelajari bagaimana menaklukan binatang buas di lautan seperti kisah singa di bagian pertama. Ingat Pi bersama dengan Richard Parker si Harimau bengal yang bisa membunuhnya suatu saat dan Pi mencoba melawan rasa takutnya. inilah cara yang dilakukan oleh Pi dalam menaklukan Richard Parker pada halaman 291 – 293:

  1. Pilihlah hari ketika suasana laut sedang berombak kecil
  2. Lepaskan Jangkar agar sekoci stabil
  3. Usiklah binatang buas tersebut
  4. Tetap waspada, pasang kontak mata pada binatang tersebut
  5. Tunjukan kemarahanmu, dan mulai memainkan peluit agar menarik perhatian.
  6. Goyangkan sekoci perlahan – lahan
  7. Ketika binatang tersebut sudah mual, jangan sampai kita ikut mual. bijaklah dalam menggoyang
  8. Ulangi langkah – langkah di atas secara terus menerus.

Life of Pi yang mendapatkan 11 nominasi Oscar dan memenangkan 4 diantaranya juga memasukan bagaimana cara membunuh hewan di lautan. Penulis berpendapat seharusnya buku Life of Pi masuk ke tema Bulan September saja karena memang isinya tentang travelling book. Kita juga disuguhkan bagaimana cara memakan makanan di lautan. Pada halaman 282 – 283, Pi mengajarkan untuk menangkap ikan seperti Dorado, Kerapu, Tenggiri dan ikan terbang. Tidak memakan binatang berbahaya seperti Ubur – ubur dan meminum darah kura – kura yang mampu menambah stamina, lalu untuk membunuh ikan secara cepat adalah dengan menekan matanya.

Pada saat bertahan di lautan inilah pengembangan karakter Pi diekplorasi secara habis – habisan oleh Martel, karena Pi tinggal di India dan seorang vegetarian, suka tidak suka ia harus memakan daging. maka gejolak emosi dimulai ketika, Pi harus membunuh binatang dan memakannya agar ia tidak mati kelaparan. Tidak lupa Martel memasukan unsur agama didalamnya, yaitu Ikan yang dalam cerita Hindu adalah sebagai jelmaan Wisnu. Kondisi Dilemma dan psikologis Pi tergambar jelas disaat ia memakan binatang – binatang laut tersebut.

Martel benar – benar menjadikan Life of Pi sebagai travelling book untuk bertahan di lautan ketika juga, Martel menyelipkan hal – hal yang harus dilakukan untuk selamat di lautan. seperti pada halaman 241 – 242:

  1. Baca Petunjuk dengan hati – hati.
  2. Tidak meminum air kencing, darah burung dan air lautan.
  3. Untuk melumpuhkan ikan, tekan matanya
  4. Hati – hati dalam merawat luka
  5. Naikan kaki selama 5 menit dalam setiap jam
  6. Hindari melakukan kegiatan yang tidak perlu. apabila bosan lakukan kegiatan sepeti bermain kartu.
  7. Air warna hijau lebih dangkal daripada air warna biru.
  8. Waspada terhadap awan – awan dari kejauhan.
  9. Jangan berenang, sekoci lebih cepat daripada berenang.
  10. Tidak membuang air kecil di pakaian apabila kepanasan.
  11. Selalu cari tempat berteduh
  12. Kalau haus, hisap sebutir kancing
  13. Penyu sangat berguna untuk tubuh
  14. Jangan patah semangat dan selalu optimis

Membaca life guide seperti itu penulis merasa Martel lost his point karena maksud utama dalam cerita Life of Pi adalah tentang bagaimana kita percaya akan Tuhan, bukannya membuka penjelasan panjang lebar tentang bagaimana bertahan di lautan. Nyaris seluruh bagian kedua dari Life Of Pi adalah seputar bertahan di lautan. unsur Tuhan sangat sedikit disentuh. Penulis menyatakan Martel GAGAL dalam membentuk cerita penuh dramatis hingga akhirnya Pi menemukan Tuhan. Chart dibawah ini mengambarkan kegagalan Martel mengolah unsur dramatis dalam Life of Pi, bisa dibayangkan kehidupan Pi di lautan hampir rata – rata adalah tentang Richard Parker dan bagaimana ia bertahan hidup, sementara Tuhan hanya menempati kurang lebih 15 persen di bagian kedua Life of Pi.

Kehancuran total di bagian dua adalah karena kurangnya unsur dramatis, Life of Pi versi film besutan Ang Lee tidak berbeda jauh. Alih – alih menambal sisi buruk buku ini justru malah membuat semakin menenggelamkan makna sebenarnya. Karena kembali ke awal, fokus Ang Lee lebih kepada visual graphic. Seharusnya Martel dan Ang Lee fokus kepada tema utama yaitu Tuhan dan ketakutan. Hal tersebut yang seharusnya digali secara mendalam di Life of Pi bukan tentang visual graphic ataupun life guide bertahan hidup di lautan.

Eksekusi penceritaan Martel menjadi semakin berantakan ketika mendadak tanpa banyak unsur dramatis dibagian kedua novel ini, Pi berbicara seperti halaman 399 bagian ketiga Life of Pi:

“Semakin kau jatuh dalam penderitaan, semakin tinggi pikiranmu ingin lepas. Wajarlah kalau dalam keadaan tanpa harapan dan putus asa, dalam terjangan penderitaan yang tidak ada habisnya, aku jadi berpaling kepada Tuhan” – Life of Pi

Dari quote di atas, Martel mencoba melakukan titik balik di bagian ketiga setelah penderitaan di atas perahu pada bagian kedua yaitu Pi akhirnya menemukan Tuhan. Kalimat di atas jadi terasa tidak begitu bermakna karena permasalahannya adalah tanpa banyak penggambaran dramatis bagaimana mungkin Pi menemukan Tuhan seperti dalam quote tersebut. Martel harusnya memperbanyak element dramatisir ,bukan element travelling book.

Kesimpulan

Life of Pi gagal membuat penulis untuk percaya kepada Tuhan melalui ceritanya yang dikatakan, “bisa membawa siapapun yang membaca akan percaya kepada Tuhan”. Life of Pi pun gagal menjadi buku perjalanan spiritual karena terlalu banyak element Travelling book. Buku ini hanya bagus ketika bagian pertama ketika Pi di India dan bagian akhirnya ketika Pi berada di Meksiko. bagian terpentingnya yaitu bagian keduanya justru hancur berantakan. Bagian pertama dan bagian ketiga itu adalah Life of Pi dan bagian kedua bukan Life of Pi tapi Travelling book!. Bagian pertama dan ketigalah yang menyelamatkan buku ini secara tema dan cerita yang diangkat.

Pada akhirnya, Life of Pi akan lebih dikenang sebagai sebuah film karena berhasil merebut 4 Oscar pada tahun 2013 daripada bukunya karena, filmnya jauh lebih menarik daripada buku Life of Pi sendiri. Juga karena filmnya berhasil banyak menambal kekurangan – kekurangan dari bukunya dengan lebih banyak unsur dramatis di dalam bagian kedua yang merupakan unsur terpenting dan dilupakan oleh Martel di dalam bukunya.

Life of Pi direkomendasikan untuk pembaca yang ingin tahu bagaimana bertahan hidup di lautan. Juga untuk pembaya yang ingin mengetahui bahwa Tuhan tidak selamanya tentang agama tapi melebihi itu, Tuhan ada untuk mengalahkan rasa takut dan mendapatkan pencerahan pada diri sendiri serta mengasihi Tuhan.

Nilai: 3 dari 5 secara keseluruhan.

This entry was posted in Adventure and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s